CERITA

Mengenal depresi: apakah merasa sedih setiap hari itu normal?

9 Januari 2019 • Bacaan 10 menit

PERINGATAN: article ini akan membahas topik-topik seperti depresi, bunuh diri dan substance abuse. Jika anda berada dalam bahaya langsung, hubungi 119. (Saluran Darurat Indonesia)

Saya cukup terkejut, saat saya baru menemukan bahwa saya depresi. Selama ini saya menjalani kehidupan sehari-hari tanpa benar-benar menyadari kondisi kesehatan mental saya sendiri. Seakan-akan seperti berjalan sambil menunduk menatap kaki. Sudah lama saya hanya fokus menghadapi kehidupan hari demi hari, meletakkan satu kaki di depan yang lain hanya untuk tetap bergerak. Ketika akhirnya saya melihat ke atas dan menyadari jarak yang sudah saya tempuh dan betapa tersesatnya saya, rasanya cukup terkejut. Sampai hari ini, saya masih ingat percakapan dengan teman saya waktu saya sadar bahwa saya depresi. Salah satu teman saya mengatakan bahwa saya mungkin depresi, dan pikiran saya tiba-tiba terbuka. Banyak hal yang tiba-tiba terasa masuk akal dan saya menyadari betapa lamanya saya tidak merasa bahagia. Menyadari bahwa saya depresi adalah hal yang menguatkan dan menakutkan. Untuk sekian lama saya hidup hanya sebatas jadi dan minimal. Saya berasumsi saya hanya seorang pemurung dan itu hanyalah sesuatu yang normal bagi saya.

Realisasi mengenai depresi

Menyadari bahwa merasa murung setiap hari bukanlah sesuatu yang normal dan bahwa saya depresi adalah hal yang menguatkan dan menakutkan. Menguatkan karena saya bisa mengubah hidup saya dan menikmati hidup lagi. Menakutkan karena saya tahu perubahan tersebut akan tidak mudah dan membutuhkan usaha yang konsisten dan penuh pertimbangan. Menyadari hal ini justru membuat saya marah akan betapa sulitnya menjadi bahagia lagi. Menjalani kehidupan sehari-hari saja sudah membutuhkan usaha keras bagi saya. Menyadari bahwa saya harus menghadapi perubahan dan pemikiran yang menyulitkan hanya untuk merasa normal lagi sangat mengganggu saya. Hidup saja sudah cukup susah, bahkan tanpa berusaha menjadi bahagia. Bagi saya, perasaan ini menggarisbawahi depresi yang saya rasakan. Perasaan-perasaan yang dominan bagi saya adalah ketidakpedulian, lelah, lesu, ditambah dengan kecil hati, sedih, murung, berat hati, dan rasa hancur. Apapun yang saya lakukan seakan akan mendaki gunung yang tidak bisa dinaiki. Membuang sampah keluar terasa memakan waktu sangat lama, bertemu teman terasa seperti mengerjakan tugas, memasak menjadi sebuah pertarungan. Saat saya menyadari banyaknya perubahan yang harus saya lakukan supaya tidak depresi, rasanya seperti melakukan hal yang mustahil yang akan membutuhkan upaya yang lebih dari kemampuan saya. Sekarang, setelah saya melihat dari sisi yang lain, saya tahu bahwa mengatasi depresi saya bukanlah sesuatu yang mustahil dan tak ada ujungnya. Meski demikian, saat itu, saya hampir tidak bisa membayangkan masa depan tanpa perlu berjuang keras untuk merasa bahagia.

Hal ini menunjukkan aspek lain dari pengalaman depresi saya. Tanpa sadar saya memandang segala sesuatu dengan negatif, baik tentang dunia sekitar maupun diri sendiri. Saya hanya fokus dengan hal-hal negatif yang saya temukan. Ketika memikirkan diri sendiri, saya akan menghakimi diri saya sendiri sambil melebih-lebihkan segala kekurangan saya dan mengarang kritikan keras untuk diri saya sendiri. Saya merasa saya orang yang menyebalkan yang tidak bisa melakukan apapun. Sebaik apapun saya diperlakukan orang, kebaikan itu tidak pernah cukup. Saat saya bermain gitar, saya akan menyalahkan diri sendiri karena ketidakpandaian saya. Hal ini membuat saya enggan mencoba hal-hal baru dan berprestasi. Saya kira saya tidak akan pernah cukup lihai untuk melakukan apapun dan bahkan setiap kali saya mencoba sesuatu dan gagal saya malah menemukan alasan baru untuk merasa tidak enak. Saya menjadi musuh terbesar saya sendiri. Saya terus memikirkan hal-hal negatif buruk tentang diri saya sendiri. Selama itu saya merasa saya hanya berpikiran realistis, bahwa saya adalah orang yang rusak dan orang-orang sekitar saya jauh lebih baik dari saya. Seiring waktu, saya menyadari bahwa hal tersebut tidak benar. Saya hanya fokus sekuat-kuatnya dengan aspek-aspek negatif diri saya sendiri dan terlalu membesar-besarkan aspek-aspek tersebut. Akhirnya saya menyadari bahwa standar yang saya pegang sangat tidak manusiawi, bahwa saya bisa mengampuni orang lain, tetapi tidak bisa mengulurkan kemurahan hati tersebut kepada diri saya sendiri.

Perjalananku—perjuangan dengan 'coping mechanism'

Saya mendapati diri saya mengonsumsi ganja. Hal ini saya lakukan untuk merasa “normal” karena saat sedang mabuk saya menjadi mati rasa dan punya alasan untuk bersantai di sofa tanpa melakukan apapun. Akan tetapi, dampaknya juga besar dalam memperparah kondisi kesehatan mental dan memperpanjang depresi saya. Mabuk ganja terus-menerus mencegah saya melakukan kegiatan sehari-hari, bertemu teman, melakukan hobi-hobi yang saya senangi, dan memperbaiki diri saya. Hal ini membuat saya merasa semakin tidak berguna dan tidak berarti, dan semakin membuat pikiran ini nyata. Saya merasa tidak berguna dan tidak berarti karena saya tidak melakukan hal apapun yang berguna atau berarti. Untuk menghindari pemikiran ini, saya beralih ke ganja agar saya tidak merasa tidak enak selama beberapa waktu. Saya ada di ruangan mental yang sangat buruk, sampai saya pun tidak bisa menjaga diri saya sendiri. Mabuk dan rasa sakit sesudahnya memakan semua energi saya. Pada akhirnya, saya sampai pada sebuah titik ketika saya dapat makan sangat banyak ataupun sangat sedikit. Seringkali, saat saya akhirnya makan di sore hari, saya akan merasa sangat tidak enak dan tidak bisa makan lebih dari beberapa suap.

Pada masa-masa itu saya mulai memikirkan bunuh diri. Saya masih tidak bisa menyatakan dengan jelas keinginan bunuh diri saya. Setiap hari saya akan terpikir untuk bunuh diri, tetapi tidak pernah benar-benar ingin bunuh diri. Meskipun saya depresi, saya masih ingin hidup dan menganggap kematian sebagai alternatif yang sangat menakutkan. Secara logis, saya tahu hidup saya akan lebih baik dan bunuh diri bukanlah jawaban. Rasanya seperti ada pedagang yang mempromosikan kematian di dalam kepala saya, dengan sangat putus asa mencoba menjual keyakinannya. Meskipun saya menolak semua usahanya untuk membuat saya membeli dagangannya yang buruk itu, ia terus menerus mencoba lagi. Saat saya lapar dan butuh memasak makanan, pedagang itu akan datang. “Nah, Brian, saya punya cara untuk menghindari keadaan ini. Anda cukup tanda tangan di sini dan akhiri semuanya,” katanya. Saat saya mengucapkan sesuatu yang memalukan di depan seorang wanita, ia akan muncul dari balik semak-semak. “Brian, saya bisa memberikan satu kesempatan unik untuk anda yang dapat mengakhiri semua rasa malu anda. Cukup bunuh diri anda sendiri dan semua masalahmu akan sirna, segampang itu,” katanya. Mengatakan “tidak” pada pedagang ini bukanlah hal yang sulit, tetapi yang menakutkan adalah betapa seringnya saya harus melakukan itu.

Mencapai titik balik saya

Titik terburuk ini adalah sebuah batu loncatan bagi saya. Pada masa-masa terburuk ini saya banyak memikirkan hidup saya, posisinya saat itu dan hal-hal yang saya inginkan dari situ. Saya sadar saya tidak senang dengan keadaan saya dan saya ingin mengubahnya lebih dari hal-hal lain yang pernah saya inginkan.

Inilah yang memulai perjalanan saya menuju pemulihan. Salah satu hal terbesar yang saya sadari adalah bahwa kesehatan mental saya adalah sesuatu yang butuh saya bentuk dan kendalikan. Saat saya tidak menjaga diri dengan baik, kesehatan mental saya yang pertama terkena dampaknya. Saya belajar bahwa kebahagiaan saya adalah sesuatu yang harus saya syukuri, dan butuh saya kembangkan dan jaga secara keseluruhan dalam semua aspek hidup saya. Tubuh kita adalah sistem yang sangat kompleks dan kita semua adalah makhluk emosional yang rumit. Meski terdengar sederhana, menjadi seseorang yang lengkap, seimbang, dan menemukan kepuasan dan kenikmatan dalam hidupnya adalah sesuatu yang, anehnya, cukup sulit.

Nama-nama telah diubah untuk melindungi privasi individu.

Pelajari lebih lanjut tentang depresi di Seribu Tujuan

STORIES

Discovering depression: is feeling bad everyday normal?

9 January 2019 • 10 minute read

WARNING: this article contains references to depression, suicide, and substance abuse. If you are in any immediate danger please dial 119. (Indonesian Emergency Line)

For me finding out that I was depressed came as quite a surprise. I had been going through the motions of my day to day life for quite some time with no real awareness of my own mental health. I was like someone who was walking while staring at their feet. For a long time I had been focused on tackling life day by day, putting one foot in front of another with the goal to just keep on moving. When I finally looked up and realised I had walked quite some distance and was lost it came as quite a surprise. I can to this day remember the conversation I had with a friend of mine where I realised I was depressed. A friend mentioned that she thought I might be depressed and it blew my mind. A lot of things fell into place and I realised just how long I had been unhappy for. Realising I was depressed was both empowering and terrifying. For so long I had felt like I was just scraping by in life. I assumed I was just someone who always felt kind of down and that it was just normal for me.

The realisation of depression

Realising that feeling down everyday wasn’t normal and that I was depressed was both empowering and terrifying. Empowering because I could change my life and start to enjoy it again. Terrifying because I knew making those changes would be hard and take consistent, thoughtful effort. This realisation actually made me mad at how hard being happy again was going to be. Just getting through each day was a lot of effort for me. Realising that I had hard changes and thoughts to go through just in order to feel normal again really got to me. Life was hard enough as it was without having to actively try to be happy. For me this feeling highlights what my depression felt like. My dominant feelings were indifference, weariness, listlessness coupled with feeling discouraged, unhappy, gloomy, heavy-hearted and crushed. Everything felt like it was an insurmountable mountain. Taking the bins out was a huge effort that would take forever, seeing friends was a chore, cooking was a battle. When I realised how many changes I was going to have to make in order to not be depressed, it felt like an insurmountable task that would take more effort then I felt capable of. Being on the other side I now know that fixing my depression wasn’t an impossible task with no end. However at the time I could barely conceive of a future where I wouldn’t be struggling to be happy.

This shows another aspect of my experience of depression. Without realising it I took a negative perspective on just about everything. Whether it was the world around me or myself, I would focus on the negativity that I saw. When thinking about myself I would harshly judge myself and way over exaggerate my flaws while making up horrible critiques of myself. I thought I was a horrible person who was bad at everything. No matter how well I treated someone it was never nice enough. When I played guitar I would beat myself up for how bad at it I was. This lead to me pulling back from trying new things or pushing myself to accomplish things. I thought that not only was I not going to be good enough to do something, but during my attempt and subsequent failure I would give myself yet another thing to feel bad about. I was very much my own worst enemy. I would constantly think horrible negative things about myself. For the longest time I thought I was just being realistic, that I was this broken person and that those around me were just better than I was. With time I realised that wasn’t true. What I was doing was focusing as hard as possible on the negative aspects of myself, blowing them way out of proportion. I came to realise that the set of standards I was trying to hold myself to were superhuman. That I was very forgiving of other people, but did not extend that generosity to myself.

The journey—struggles with coping

I found myself using large amounts of marijuana. I did this to feel ‘normal’ as when I was high I was somewhat numbed and had an excuse to do nothing but sit on the couch. This played a large roll in simultaneously worsening my mental health and perpetuating my depression. Getting high all the time prevented me from doing everyday tasks, seeing friends, doing hobbies I enjoyed and doing things to better myself. This in turn made me feel more and more useless and worthless, whilst also making that true. I felt useless and worthless because I was being useless and worthless. In order to avoid dealing with these feelings I would turn to getting high so I could not feel so bad for a time. I was in such a bad mental space that I was barely keeping my life together. Being high and dealing with the hangover effects the next day robbed me of the little energy I had. Eventually I got to the point where I was eating both erratically and minimally. Many times when I finally ate late in the day I would feel sick and not be able to eat more than just a small amount.

Around this time I started to experience suicidal thoughts. I struggle to say whether or not I was suicidal. I had daily thoughts about killing myself but never a desire to kill myself. Despite being depressed I still enjoyed life and I found death to be a terrifying alternative to being alive. I also knew logically that life would get better and that suicide was not an answer. It was like there was a salesman for death in my head, desperately pushing a sale. Despite rejecting every attempt of his to get me to buy his horrible product, he just kept on trying to sell to me. I’d be hungry and need to cook dinner, along comes the salesman, “Well Brian I have a way of avoiding this whole situation, all you’ve got to do is sign the line here and end it all”. I’d say something silly in front of a pretty girl, and he’d jump out from behind a bush “Brian I have this unique one time opportunity for you that will fix your embarrassment, all you’ve got to do is kill yourself and your problem will be solved, too easy”. Saying no to this little purveyor of death in my head wasn’t hard, just alarming in how frequently I had to do so.

Reaching my turning point

Hitting this low point was a milestone for me. When I was at my lowest point I spent a lot of time thinking about my life, where it was and what I wanted from it. I realised that I was not happy with how my life was, that I wanted it to change more then I wanted anything else I had ever wanted.

This began my journey to recovery. One of the largest realisations I had was that my mental health is something I needed to shape and to stay in control of. When I don't maintain myself well enough my mental health is one of the first things to feel an impact. I learnt that my happiness wasn’t something I could take for granted, and needed to be nurtured and maintained in a wholistic way through all aspects of my life. Our bodies are complex systems and we are all complicated emotional beings. For something that sounds very simple being a complete and balanced person who finds fulfilment and enjoyment from their life is surprisingly hard.

The names have been changed to protect the privacy of individuals.

Learn more about depression at Seribu Tujuan
Brian P.
Blog Contributor