CERITA

Selangkah lebih dekat: mencari perawatan dan pengobatan yang tepat untuk diriku

16 Januari 2019 • Bacaan 7 menit

PERINGATAN: article ini akan membahas topik-topik seperti depresi dan bunuh diri. Jika anda berada dalam bahaya langsung, hubungi 119. (Saluran Darurat Indonesia)

“Saya tingkatkan ya dosisnya,” kata psikater yang menanganiku.

“Lagi?”, ujarku.

Aku sudah mengonsumsi 300 mg Lamictal dan 200 mg Lexapro. Dokter secara berkala meningkatkan dosis obatku sejak beberapa bulan yang lalu -yang awalnya dimulai dari 75 mg Lamictal dan 15 mg Lexapro. Sebelumnya aku sudah mengonsumsi Valdoxan dan sebelumnya lagi Lithium.

Setelah dari psikiater aku berjalan ke apotek. Asuransiku tidak menjamin pengobatan untuk kesehatan mentalku. Satu juta rupiah setiap bulan untuk membeli persediaan 300 mg Lamictal perharinya selama sebulan.

Setelah beberapa minggu mengonsumsi obat yang disarankan, keadaanku malah semakin memburuk. Pikiran untuk bunuh diri semakin menghantuiku. Pikiran itu semakin membuatku depresi sehingga aku tidak keluar rumah selama dua minggu, bersembunyi dalam kamarku. Berat badanku turun drastis dan bahkan aku tidak dapat menghadiri kelas. Aku bisa merasakan kondisi tubuhku yang semakin memburuk seiring dengan semakin aku mengabaikan telepon dari teman-teman yang khawatir. Bantalku basah karena aku menangis setiap malamnya dan semua hanya terlihat kabur dan samar.

Salah satu temanku memberanikan diri mengetuk pintu kamarku, memaksaku untuk keluar dari kamar. Walaupun dalam hati aku berharap dia membiarkanku di kamar saja lebih lama, aku sadar bahwa yang dia lakukan benar. Tetapi setelah dia pergi, aku kembali mengurung diri di kamar sepanjang hari. Perbedaannya hanya aku akan keluar kamar untuk makan, membayar hari-hari yang kulewatkan tanpa makan apapun.

Aku tidak terlalu terbuka kepada psikiater yang menanganiku soal efek samping dari obat yang diberikan sehingga ia percaya saja bahwa obat yang diberikan sudah tepat. Dipikir-pikir lagi, beliau bukan psikiater yang keras kepala atau bersikap sok dewasa, permasalahannya di aku yang terlalu takut untuk terbuka pada beliau. Lebih sedih lagi karena beliau juga sangat percaya Lamotrigine. Sejujurnya aku ingin segalanya bekerja sesuai dengan yang beliau percaya namun obat yang diberikan malah membuat segalanya semakin memburuk. beberapa malam kuhabiskan dengan minum, berdiri di tepi tebing, menyakiti diriku sendiri, dan meragu tentang apakah aku harus mengakhiri semua ini atau bertahan sedikit lebih lama lagi.

Ketika aku berjalan ke ruangan psikiater, aku hanya duduk dan tidak bicara soal obat yang tidak bekerja karena aku tidak ingin menyinggung perasaannya. Di sisi lain aku juga tidak ingin dia meningkatkan dosis obatku dan mengubah jenis obat yang sudah aku konsumsi. Keberhasilan obat hanya dapat dilihat setelah dua minggu atau lebih. Jarang sekali perubahan drastis dapat terlihat dan seperti obat-obat lain yang sudah pernah aku konsumsi, asumsi yang kupegang adalah pasti mereka semua bekerja dengan baik. Karena kamu merasa obat itu tidak bekerja, maka kamu akan mulai merasakan efek sampingnya.

Yang aku ingin kalian tahu lewat tulisan ini adalah perawatan atau pengobatan untuk kondisi kesehatan mental berbeda untuk setiap kondisi - yang berarti bergantung kepada siapa kamu dan kamu seperti apa. Bergantung pada apa yang berhasil dan bekerja pada kamu.

Buatku, menulis jurnal dan hal-hal yang kurasakan setiap hari sangat membantu walaupun terkadang hal itu memicu kondisi kesehatan mentalku. Meditasi tidak berhasil mengubah kondisi kesehatan mentalku walaupun beberapa orang merasa meditasi mengubah hidup mereka. Aku tidak merasa berolahraga membuatku merasa baik seperti yang psikolog harapkan walaupun secara ilmiah memang olahraga dapat menurunkan depresi. Beberapa mungkin merasa kelompok pendukung (support group) tidak membuat perubahan tapi sebaliknya itu alasan untukku terus tetap mencoba. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk bertemu dengan psikolog yang sekarang rutin kutemui dan walaupun perawatan yang diberikan tidak sempurna, itu lebih baik daripada obat-obat yang pernah aku konsumsi.

"Yang aku ingin kalian tahu lewat tulisan ini adalah perawatan atau pengobatan untuk kondisi kesehatan mental berbeda untuk setiap kondisi–yang berarti bergantung kepada siapa kamu dan kamu seperti apa. Bergantung pada apa yang berhasil dan bekerja pada kamu."

Kerjasama antara kamu dan psikiater sangat penting untuk dapat menentukan pengobatan yang tepat. Terbuka terkait dengan efek samping yang dirasakan dan apa yang kamu pikirkan terhadap mereka sangat penting hukumnya. Obat yang tidak bekerja bukan berarti kamu tidak dapat tertolong lagi.

Apabila obat yang sekarang kamu konsumsi tidak bekerja, maka kamu satu obat lebih dekat kepada perawatan yang tepat.

Aku harap aku tahu ini ketika aku menemui psikolog yang menyuruhku berolahraga atau Lamotrigine dosis tinggi, bukan berarti aku tidak dapat tertolong lagi.

Butuh bertahun-tahun untuk dapat menemukan psikolog, psikiater, kombinasi pengobatan, dan orang-orang yang saling mendukung untuk dapat menjadi diriku yang sekarang ini. Untuk kalian yang sedang berjuang di luar sana, menemukan pertolongan yang tepat adalah sebuah perjalanan dan sungguh, bertahanlah sedikit lagi setiap harinya untuk dapat melihat bahwa kondisimu akan segera membaik.

Dan berjanjilah bahwa kamu akan jujur pada dirimu sendiri tentang apa jenis pengobatan yang bekerja padamu dan apa yang tidak.

Pelajari depresi dan lebih lanjut tentang depresi dan bipolar di Seribu Tujuan

STORIES

One step closer: finding the right treatment and medication for me

16 January 2019 • 7.5 minute read

WARNING: this article contains references to depression and suicide. If you are in any immediate danger please dial 119. (Indonesian Emergency Line)

“I’d like to increase your dosage,” my psychiatrist said.

“Again?” I asked.

I was already on 300mg of Lamictal and 20mg of Lexapro. These past few months the doctor has steadily increased the dosage - I started out with 75mg Lamictal and 15g Lexapro. Before this, I was taking Valdoxan, and before it, Lithium.

I made my way to the chemist. My insurance doesn’t cover medication, so I scrabbled for 1 million rupiahs ($100AUD) to afford a month’s worth of 300mg Lamictal per day.

After a few weeks of taking it, I was having even more suicidal thoughts. It made me so depressed that I stayed home for two weeks, hiding under my sheets. I lost so much weight and was not going to classes. I could feel my body deteriorate as I ignore calls from my worried friends. My pillow soaked in tears every single night and everything just seemed hazy

One of my worried friends eventually knocked on my door, forcing me out of bed. Although at the time I wished she would just let me lay there longer, I knew she was doing what was right for me. But after she left, I would remain in bed all day. The only difference is that I would come out only to binge eat, trying to make up for all the days I didn’t eat.

I wasn’t very open to my psychiatrist about my side effects and made him believe that his drug was working. Looking back, he wasn’t a stubborn psychiatrist or too paternal, it was just me who was scared of being open to him. It was also sad and weird because my psychiatrist swore by Lamotrigine. Honestly, I wanted it to work as well as he believed the drug would but all it was doing was make everything worst. There were nights of reckless drinking and standing on cliff tops, vomiting and self-harming, and contemplating whether or not to end it all.

When I do walk into the psychiatrist’s office, I just sit there because I do not want to offend him by saying his ‘miracle’ drug did not work. I did not want him to up my dosage again. A part of me also didn’t want to change drugs again. With medication, you can only see if it works after two weeks or more. You don’t usually see a direct difference - just like every other drug I’ve taken, assuming it actually worked. Because if you find that it doesn’t work, then there you suffer through the side effects.

I guess what I want you to take out of this post is to let everyone know that treatment for mental health conditions is not a one-size-fits-all. Meaning, it depends on who you are and what you like—it depends on what works for you.

I find it extremely helpful to write about my feelings and journal every day, even though I know it could be triggering to a few. I find mindfulness and daily meditation quite useless, when plenty find it life changing. Although I exercise, it does not make me feel as good as what my psychologist expects, while it is scientifically proven that it does help with depression. I know that it might not help many to join support groups, but it is what keeps me going. It took me awhile to find my current psychologist and though the current combination of medication isn’t perfect, it is better than what used to be prescribed.

"I guess what I want you to take out of this post is to let everyone know that treatment for mental health conditions is not a one-size-fits-all. Meaning, it depends on who you are and what you like—it depends on what works for you."

It is also very important to work with your psychiatrist on the right medication. Be open to them regarding the side-effects you are feeling and just pour out what is in your mind. It does not mean that you are helpless if what a psychiatrist prescribes you and does not work.

Look at it this way, if the current drug does not work, then it is one drug closer to the right treatment.

I just wish I knew when I was getting help that just because it did not work with that psychologist, or that high dosage Lamotrigine, does not mean that I am helpless.

It took me years to finally find the right psychologist, psychiatrist, combination of medication and a great support group to be standing where I am today. Just know to you strugglers out there, that it is a journey to get the right kind of help and really, just hold on long enough to see it get better.

And promise me that you’ll be honest with yourself on what’s working and what’s not.

Learn more about depression and bipolar at Seribu Tujuan
Caroline
Blog Contributor