HEADROOM

Meditasi - Sebuah Kunci untuk Mencapai Mindfulness

12 Juli 2019 • Bacaan 9 menit

Mindfulness.

Satu kata yang baru saya ketahui sekitar bulan Januari 2018 dan kini menjadi pegangan hidup saya.

Saat itu memasuki tahun 2018, pikiran saya tak karuan. Saya putus dengan pacar saya. Saya harus mempersiapkan diri untuk segala ujian yang akan saya hadapi mulai dari USBN hingga SBMPTN. Saya juga mengalami bullying di sekolah. Ditambah lagi saya mengalami konflik dengan seorang teman. Saya tidak bisa tenang saat itu. Saya sangat lelah baik fisik maupun mental. Saya merasa tidak bahagia dengan hidup saya dan saya tidak bisa fokus dalam mengerjakan apapun, terutama setelah putus dari pacar saya. Saya merasa sangat putus asa. Saya merasa dialah support system saya ketika saya tertekan menghadapi bullying (saya tidak berani menceritakan masalah bullying kepada keluarga).

Saya sangat merasa putus asa hingga saya mencari cara untuk kembali bersama kepada pacar saya. Salah satunya adalah meditasi Law of Attraction. Saya menemukan banyak meditasi Law of Attraction di Youtube. Bahkan ada orang yang menjanjikan bahwa dengan melakukan meditasi selama tiga bulan, kita akan berhasil mendapatkan orang yang kita inginkan. Saya tertarik dengan hal tersebut dan saya mencobanya. Tiga bulan kemudian saya tetap tidak kembali bersama dengan mantan saya. Namun saya mendapatkan hal yang jauh lebih berharga : ketenangan batin dan kebahagiaan.

Selama tiga bulan, banyak hal yang saya pelajari dari meditasi. Kebahagiaan datang dari diri sendiri bukan dari orang lain. Memang terdengar klise tapi memang seperti itu kenyataannya. Kebahagiaan tercipta ketika kita mulai mencintai dan menerima diri kita sendiri. Ketenangan batin tercipta ketika kita sadar dengan diri kita dan sekitar kita, ketika kita menjadi mindful dengan segala yang ada.

Ketika melakukan meditasi ada beberapa poin penting yang saya garis bawahi:

1. Temukan posisi ternyaman

Meditasi tidak harus dilakukan dengan duduk bersila, dalam posisi berbaring pun juga bisa. Letakkan kedua tangan di dada dan fokus pada daerah tersebut, bayangkan ada sumber energi kehidupan di sana.

2. Pejamkan mata. Lebih mudah untuk fokus ketika memejamkan mata.

3. Hitung nafas secara perlahan hingga tubuh benar-benar rileks. Sadari nafasmu.

4. Setelah itu dapat dilakukan afirmasi diri (self-affirmation)  atau visualisasi.

Pada saat pertama mengenal meditasi, saya lebih banyak menggunakan afirmasi diri karena saya tidak percaya diri akibat bullying. Saya mengawali afirmasi diri dengan menyebutkan nama saya supaya saya benar-benar sadar tentang diri saya. Setelah itu saya mengucapkan kalimat-kalimat yang menunjukkan kelebihan, kebaikan, dan hal-hal positif yang ada pada diri saya. Ini bertujuan untuk mengingatkan diri kita kalau kita memiliki banyak hal positif untuk disyukuri ketimbang hanya berfokus pada kekurangan kita. Setelah itu dilanjutkan dengan menyebutkan hal-hal yang ingin kita peroleh dalam hidup tetapi menyebutkannya dengan waktu saat ini, tanpa ada kata “akan” atau “ingin”, sama seperti mengucapkan afirmasi diri.

  • Contoh: “Saya Tika (menyebutkan nama). Saya ramah. Saya rajin. Saya penyayang binatang. Saya pendengar yang baik, dan seterusnya (menyebutkan afirmasi diri). Saya bahagia dengan hidup saya. Saya dicintai. Saya mendapat dukungan dari teman dan keluarga, dan seterusnya (menyebutkan hal-hal yang diharapkan terjadi dengan keyakinan bahwa hal-hal tersebut memang terjadi).

Afirmasi diri dapat dilakukan dengan mengatakannya secara lantang maupun bisik-bisik.

Selain self-affirmation, saya melakukan visualisasi. Saya memvisualisasikan suatu kejadian atau peristiwa. Visualisasi tidak sama dengan berimajinasi. Visualisasi dilakukan dengan membayangkan suatu kejadian sespesifik dan sedetail mungkin. Yang divisualisasikan adalah tempatnya, dengan siapa, bunyi-bunyian apa yang ada, bau, bahkan sentuhan.

5. Terakhir meditasi ditutup dengan menghitung nafas kembali dan buka mata secara perlahan.

Jika kamu orang yang sibuk, tak perlu khawatir. Meditasi tidak harus dilakukan dengan duduk bersila dan mengucapkan self-affirmation. Kunci dari mindfulness adalah “sadar” and “hadir”. Meditasi dapat dilakukan dengan cara sederhana seperti menghitung tarikan nafas, menghitung langkah, mengobservasi lingkungan, yang dapat dilakukan bahkan saat makan. Saat sedang berjalan, kamu bisa mengucapkan dalam hati hitungan-hitungan seperti “satu, dua, satu, dua” atau “kanan, kiri, kanan, kiri”. Meditasi pernafasan pun juga seperti itu. Saat bernafas kamu juga bisa menghitung dengan “satu, dua, tiga, empat” atau “Tarik.. Buang..”.

Saat sedang makan pun meditasi dapat dilakukan dengan observasi dan deskripsi. Perhatikan baik-baik apa yang akan kamu makan. Bagaimana bentuknya? Seperti apa warnanya? Bagaimana teksturnya? Seperti apa baunya? Saat kamu memakannya kunyahlah secara perlahan dan deskripsikan rasa, tekstur, bahkan perasaanmu ketika memakan makanan tersebut. Meditasi dapat dilakukan dalam segala situasi dengan cara sesederhana mengobservasi dan mendeskripsikan dalam hati. Dengan begitu, kamu akan lebih sadar dengan keadaan sekitar, dirimu sendiri, dan kehidupan yang sedang kamu jalani. Dengan menjadi lebih sadar, kita menjalani hidup dengan lebih santai dan tidak selalu terburu-buru dan sibuk dengan segala sesuatu yang berkecamuk dalam pikiran kita.

Setelah tiga bulan melakukan praktik meditasi, saya merasa jauh lebih baik. Saya bisa menghargai dan mencintai diri saya. Saya bisa tetap percaya diri bahkan ketika mengalami bullying. Saya tetap bahagia ketika ditinggalkan pacar saya. Saya tetap santai dan tidak stress saat akan menghadapi segala macam ujian kelulusan maupun ujian masuk universitas. Saya merasa praktik meditasi ini sangat baik dan sangat mengubah hidup saya. Saya pun memutuskan untuk melakukannya setiap hari dan setiap saat. Meditasi mengajarkan saya untuk menghargai makanan yang saya makan. Meditasi mengajarkan saya untuk mensyukuri setiap tarikan nafas saya. Dan yang terpenting adalah meditasi mengajarkan saya untuk bahagia dan menikmati hidup sekalipun diterpa masalah.


Pelajari mindfulness lebih lanjut di Seribu Tujuan

Sumber

Beach, S. R. 2017. Is mindfulness a religion?. https://www.huffpost.com/entry/is-mindfulnes-a-religion_n_6136612/amp?guccounter=1, diakses 3 Juni 2019.

Doty, J.R. 2016. Into The Magic Shop: Neurosurgeon’s Quest to Discover the Mysteries of the Brain and the Secrets of Heart. Avery, New York: 1—276.

Ergas, O. 2014. Mindfulness in education at the intersection of science, religion, and healing. Critical Studies in Education 55(1): 58–72, http://dx.doi.org/10.1080/17508487.2014.858643

Headspace. 2019. What is mindfulness?. https://www.headspace.com/mindfulness, diakses 30 Mei 2019.

Koenig, H.G. 2009. Research on Religion, Spirituality, and Mental Health: A Review. The Canadian Journal of Psychiatry, 54(5): 283—291.

Lim, D., P. Condon, & D. DeSteno. 2015. Mindfulness and Compassion: An Examination of Mechanism and Scalability. PLoS ONE 10(2): 1—8. doi:10.1371/journal.pone.0118221

Selva, J. 2017. History of Mindfulness: From East to West and From Religion to Science. https://positivepsychologyprogram.com/history-of-mindfulness/, diakses 30 Mei 2019.

HEADROOM

Meditation - A Key to Reach Mindfulness

12 July 2019 • 9 minute read

Mindfulness.

A word that I just know in January 2018 and become a key of my life since then.

It was in the beginning of 2018, and my mind was screwed up. I broke up with my boyfriend but I have to prepare myself for the upcoming examinations USBN (National School Examination) and SBMPTN (National University Admission Test) at the same time. Bullying at school and friendship conflict made my life completely screwed. I could not help but feeling anxious also physically and mentally tired. I felt unhappy with my life and I could not focus while working anything, especially after that broke up. I felt so desperate. He was my support system while I was bullied (I could not tell my bullying story to my family).

I felt so desperate then I was looking for a way to get back together with my boyfriend, then I found Law of Attraction meditation. I found a lot of Law of Attraction meditation on Youtube. Somebody even guaranteed that this meditation could attract someone that we want only in three months. I was keen into it then I tried it. After three months trying this meditation, I still could not get back together with him. Instead I got more valuable things which were mindfulness and happiness.

After those three months, I learned a lot from the meditation. One of the points is happiness comes from within yourself, not from others. It may sound cliche but it is just the reality. Happiness is created when we start to love and accept ourselves. Mindfulness is created when we aware about ourselves and our surroundings, when we become mindful about everything that exists.

When I am doing the meditation, there were some points that I would like to highlight:

1. Find the most comfortable position.

Meditation can be done with many positions, not only sitting with cross-legged but it also can be done by lying down. Put your both hands on your chest and focus in those areas, imagine that there is a source of life energy which exists there.

2. Close your eyes, it will be much easier to focus if you close your eyes.

3. Count your breath slowly until your body becoming really relax. Be aware of your breath.

4. After that you can do self-affirmation or visualization.

On my first time doing meditation, I use self-affirmation a lot because I am not confident as a result of bullying. I start my self-affirmation by saying my name out loud so I become aware of myself. After that I will say words that show my strength, my good traits, and all the positive things that I have. This aim to remind ourselves that we have a lot of positive sides to be grateful of, instead of focusing on our negative traits. Then we continue by saying all the things that we want to get from this life but we saying it in present tense without saying words like “wish” or “hope”.

  • Example: “I am Tika (say your name here). I am friendly, diligent, and I care a lot about animals. I am a good listener, etc (mention your self affirmation). I am happy with my life. I am loved. My friends and family support me (mentioning all the things that we wish it will happen in the future with a confidence that it will really happen).”

Self-affirmation can be done by saying it out loud or whispering.

Besides self-affirmation, I also do a visualization. I visualize a specific event. Visualization is different with imagination. Visualization is done by imagining an event specifically and detail. Visualize the detail such as the place, whom you are with, smells, and a touch.

5. Meditation is ended by counting back your breath and open your eyes slowly.

If you are a busy person, you do not have to worry because meditation should not have to be done by sitting with cross-legged and saying self-affirmation out loud. The keys of mindfulness are “be aware” and “be present”. Meditation can be done with simple way by counting breath and steps, observe the environment, which can you do even when you are eating. When you are walking, you can count your steps like “one, two, one, two” or “right, left, eight, left”. Breath meditation is also done like that. While breathing, you may count “one, two, three, four” or “inhale….exhale….”.

When you are eating, you may do a meditation by observing and describing. Pay detailed attention to your food then ask yourself about the shape, colour, texture, and smells. Chew it slowly and describe the flavor, texture, even your feeling when you eat the food. Meditation can be done in every situation with a simple way such as observing and describing something in your mind. That way, you can be more aware about your surroundings, yourself, and your life. By being aware, we can live our life more relaxed, not rushing out, and busy with everything that comes to our minds.

After three months practicing meditation, I feel a lot better. I can appreciate and love myself. I can be confident even though I am bullied. I am still happy even though my boyfriend left me. I can be relaxed and not stressed when I have to face USBN (National School Examination) or SBMPTN (National University Admission Test). Practicing meditation is really food and change my whole life therefore I decide to do it every day and every time. Meditation teaches me to appreciation every food that I eat, be grateful about every breath I take, and the most important thing is meditation teaches me on how to be happy and enjoy my life even though there are always problems on the way.


Learn more about mindfulness at Seribu Tujuan


References

Beach, S. R. 2017. Is mindfulness a religion?. https://www.huffpost.com/entry/is-mindfulnes-a-religion_n_6136612/amp?guccounter=1, diakses 3 Juni 2019.

Doty, J.R. 2016. Into The Magic Shop: Neurosurgeon’s Quest to Discover the Mysteries of the Brain and the Secrets of Heart. Avery, New York: 1—276.

Ergas, O. 2014. Mindfulness in education at the intersection of science, religion, and healing. Critical Studies in Education 55(1): 58–72, http://dx.doi.org/10.1080/17508487.2014.858643

Headspace. 2019. What is mindfulness?. https://www.headspace.com/mindfulness, diakses 30 Mei 2019.

Koenig, H.G. 2009. Research on Religion, Spirituality, and Mental Health: A Review. The Canadian Journal of Psychiatry, 54(5): 283—291.

Lim, D., P. Condon, & D. DeSteno. 2015. Mindfulness and Compassion: An Examination of Mechanism and Scalability. PLoS ONE 10(2): 1—8. doi:10.1371/journal.pone.0118221

Selva, J. 2017. History of Mindfulness: From East to West and From Religion to Science. https://positivepsychologyprogram.com/history-of-mindfulness/, diakses 30 Mei 2019.

Skolastika R.
Blog Contributor