INSIGHT

Hukum Indonesia seputar Kesehatan Mental

9 Agustus 2019 • Bacaan 4 menit

Tahukah kamu?

Pada tahun 2014, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah mengesahkan peraturan yang khusus mengatur tentang kesehatan jiwa loh!

Peraturan tersebut disusun dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2014. Salah satu hal yang dibahas dalam UU tersebut adalah istilah ODMK dan ODGJ. Sudah kenal dengan kedua istilah itu?

Jadi... kedua istilah tersebut bertujuan untuk menjelaskan perbedaan dari dua kondisi kejiwaan. Secara spesifik, ODMK merupakan singkatan dari Orang Dengan Masalah Kejiwaan. Menurut UU No. 18 tahun 2014, istilah ODMK merujuk pada orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan dan/atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. Sedangkan ODGJ merupakan singkatan dari Orang Dengan Gangguan Jiwa yang merujuk pada orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang bermanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan perilaku yang bermakna serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

“Satu hal yang perlu digarisbawahi dari kedua istilah tersebut adalah pada penggunaan kata "masalah" dan "gangguan".”

Perlu diingat bahwa kedua istilah tersebut bertujuan untuk menjelaskan saja, bukan sebagai acuan untuk memberi label atau mendiagnosis kondisi kejiwaan seseorang ya...!

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari kedua istilah tersebut adalah pada penggunaan kata “masalah” dan “gangguan”. Apa perbedaannya? Ok, supaya lebih mudah mari kita gunakan analogi alat transportasi sehari-hari yaitu mobil dan/atau sepeda motor. Sekarang, kita ibaratkan alat transportasi itu sebagai kondisi kejiwaan kita. Saat kita berkendara dengan alat transportasi yang kondisinya baik, maka perjalanan kita akan terasa lancar. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sepanjang perjalanan kita akan menjumpai beberapa hambatan yang berpotensi membuat alat transportasi tersebut menjadi tidak berfungsi baik. Nah, ketika kita sudah merasa bahwa ada “masalah” terhadap alat transportasi tersebut, sebaiknya kita segera mencari pertolongan dari bengkel terdekat. Karena, apabila tidak segera ditangani, lama kelamaan “masalah” tersebut bisa berpotensi menjadi “gangguan” yang serius terhadap alat transportasi kita. Lama kelamaan, “gangguan” tersebut juga dapat mengganggu aktivitas kita karena menghambat mobilitas. 

Sama seperti kondisi kejiwaan, bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali menjumpai masalah-masalah dalam hidup yang sulit sekali untuk dihindari. Disadari atau tidak, masalah tersebut berdampak juga pada kondisi kejiwaan kita. Sebelum masalah tersebut berkembang menjadi besar dan mengganggu fungsi kehidupan kita sehari-hari jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti konselor atau psikolog. Contoh konkretnya adalah ketika ada orang berinisial A yang menjadi korban bencana alam... bencana alam itu sendiri merupakan peristiwa yang sulit untuk dihindari dan berpotensi mengguncang kondisi kejiwaan seseorang. Kemungkinan A untuk mengalami masalah kejiwaan jadi lebih besar, seperti sedih yang berkepanjangan karena kehilangan anggota keluarga. Nah, apabila kondisi ini tidak segera dipulihkan, kesedihan yang berkepanjangan dapat menyebabkan A mengalami gangguan jiwa seperti depresi.


Pelajari kesehatan mental lebih lanjut di Seribu Tujuan

Sumber

Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa

INSIGHT

Indonesian Laws surrounding Mental Health

9 August 2019 • 5 minute read

Did you know?

In 2014, the Ministry of Health of the Republic of Indonesia (Kemenkes RI) has passed a regulation which specifically regulates mental health!

These regulations were compiled in Law No. 18 of 2014. One of the things discussed in the law was the terms of ODMK and ODGJ. Are you familiar with these two terms?

So, the two terms aim to explain the differences between two mental conditions. Specifically, ODMK stands for Orang dengan Masalah Kejiwaan (People With Psychological Problems). According to Law No. 18 of 2014, the term ODMK refers to people who have physical, mental, social problems, problems regarding growth and development and/or their quality of life so that they have a risk of suffering from mental disorders. Whereas ODGJ stands for Orang dengan Gangguan Jiwa (People with Mental Disorders), which refers to people who experience disturbances in thoughts, behaviors, and feelings that manifest in the form of a set of significant symptoms and/or behavioral changes, and can cause suffering and obstacles in functioning as a human being.

“One crucial thing that needs to be emphasized regarding the two terms is the use of the words "problem" and "disorder".”

Keep in mind that the two terms aim to explain, and are not a reference for labeling or diagnosing someone's mental condition ...!

One crucial thing that needs to be emphasized regarding the two terms is the use of the words "problem" and "disorder". What's the difference? Okay, to make things easier, let's use everyday transportations as an analogy; namely cars and/or motorbikes. Now, we are comparing these means of transportation to our mental condition. When we drive using a vehicle in good condition, our journey will feel smoother. However, along the way, we will definitely encounter a number of obstacles that can prevent the vehicle from functioning properly. Well, when we feel that there is a "problem" with these means of transportation, we should immediately seek help from the nearest workshop. This is because, if not addressed immediately, the "problem" can potentially become a serious "disturbance" (or “disorder” in the context of mental health) to our transportation. Over time, the "disorder" can also interfere with our activities because it inhibits mobility.

Just like psychiatric conditions, we ​​often encounter problems in our everyday lives that are very difficult to avoid. Whether we realize it or not, the problem has an impact on our mental condition. Before the problem develops and disrupts our daily lives, do not hesitate to consult with professionals such as counselors or psychologists. A concrete example is when someone - say, who has the initial A, is a victim of natural disasters... natural disasters themselves are events that are difficult to avoid and can potentially destabilize one's mental condition. The possibility for A to experience mental problems becomes greater, such as prolonged sadness due to loss of family members. If this condition is not immediately healed, prolonged sadness can cause A to experience mental disorders such as depression.


Learn more about mental health at Seribu Tujuan


References

Law of the Republic of Indonesia No. 18 of 2014 regarding Mental Health

Retno Putriaji
Blog Contributor