INSIGHT

Pasung dan Indonesiaku

30 Agustus 2019 • Bacaan 4 menit

Pasung, sudah lama aku tidak mendengar kata itu. Kapan terakhir kali mendengar beritanya di negeri ini pun aku lupa. Bagaimana kabar terakhir terkait kasus pasung di negeriku yang sudah 74 tahun merdeka ini?

Pasung adalah cara yang digunakan untuk menghukum orang dengan menggunakan kayu apit untuk mengikat kaki dan tangan (KBBI, 2019). Cara ini banyak dilakukan di negeriku untuk mengikat orang dengan gangguan jiwa agar mereka tidak menyakiti dirinya sendiri dan orang lain. Namun, pemasungan tidak hanya terjadi di lingkungan keluarga, melainkan juga institusi (Human Right Watch, 2016).

Beberapa tahun yang lalu berita tentang pemasungan para penderita gangguan jiwa banyak dimuat di televisi dan di media cetak. Berita tersebut menunjukkan bagaimana penanganan orang dengan gangguan jiwa tidak dilakukan dengan baik. Di tahun 2014, Indonesia sudah membawa wacana bebas pasung dengan menilik kembali Surat Menteri Dalam Negeri Nomor PEM.29/6/15 tahun 1977. Namun, sayangnya wacana tersebut belum berhasil, melihat data penderita gangguan jiwa yang pernah dipasung di tahun 2013 sebesar 14,3% (57.000 orang), wacana ini diundur menjadi Indonesia bebas pasung 2019 (Lestari & Wardhani, 2014).

Berita pasung menjadi hal yang sulit dicari belakangan ini. Aku tidak tahu apakah kurangnya informasi atau memang Indonesiaku sudah mampu juga memerdekakan manusianya dari ancaman pasung di tahun ini?

“Pemasungan cenderung memperburuk kejiwaan penderita. Jalan keluarnya adalah penerimaan, pengobatan, dan keinginan untuk sembuh itu sendiri.”

Berita pasung terakhir yang dapat aku temukan berasal dari tahun 2018 ke belakang. Berita-berita tersebut umumnya menunjukkan bahwa pasung tidak meringankan dan menyelesaikan gangguan kejiwaan penderita, melainkan sebaliknya. Pemasungan cenderung memperburuk kejiwaan penderita. Jalan keluarnya adalah penerimaan, pengobatan, dan keinginan untuk sembuh itu sendiri. Serta penanganan pasca pasung bagi penderita merupakan salah satu hal yg paling penting.

Aku tidak banyak tahu memang. Waktu aku tahu beberapa anak bangsa dengan prestasi yang mengagumkan pernah menjadi korban pasung akibat ketidaktahuan dalam penanganan penyakitnya, aku kaget. Siapa yang mengira?

Beberapa kasus korban pasung di Indonesia yang mampu meraih prestasi yang luar biasa, merupakan contoh nyata bahwa pasung bukan merupakan cara yang benar dalam menangani penyakit gangguan jiwa. Pasung pernah menjadi masa lalu Anto Sugianto, yang didiagnosis mengalami depresi berat sehingga menyebabkan beliau dipasung di puskesmas ketika ia mencoba pergi dari rumah. Pasung memperburuk kondisinya, keinginannya yang besar untuk hidup normal kembali berhasil meloloskan Anto dari depresinya, hingga sekarang beliau sudah berprofesi sebagai guru bahasa inggris dengan prestasi yang besar (Sabandar, 2016). Penyakitnya bukan halangan dalam menggapai cita-citanya.

Aku sadar di 74 tahun Indonesia merdeka masih banyak anak bangsanya yang belum merdeka juga, yang masih terbelenggu dengan diagnosis terhadap penyakitnya dan terbelunggu dalam keinginan untuk dimanusiakan sebagaimana manusia pada umumnya. Pasung bukan solusi dan bukan pula jawaban.



Pelajari kesehatan mental lebih lanjut di Seribu Tujuan

Sumber

Lestari, W & Y.F. Wardhani. 2014. Stigma dan Penanganan Penderita Gangguan Jiwa Berat yang Dipasung. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan 17(2): 157–166.

Sabandar, S. 2016. Kisah Guru Bahasa Inggris Dipasung Akibat Ketidaktahuan. https://www.liputan6.com/regional/read/2622349/kisah-guru-bahasa-inggris-dipasung-akibat-ketidaktahuan

Human Right Watch. 2016. Indonesia: Menangani Kesehatan Jiwa dengan Cara Dipasung. https://www.hrw.org/id/news/2016/03/20/287598

Sahana, M. 2015. Indonesia Menuju Bebas Pasung Terhadap Penderita Gangguan Mental. https://www.voaindonesia.com/a/indonesiamenuju-bebas-pasung-terhadap-penderita-gangguan-mental/2653154.html

Yasmin, P.A. 2017. Dulu Disebut Gila dan Pernah Dipasung, Kini Anto Sarat Prestasi. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3464214/dulu-disebut-gila-dan-pernah-dipasung-kini-anto-sarat-prestasi

INSIGHT

Indonesian Laws surrounding Mental Health

30 August 2019 • 5 minute read

Pasung - I haven't heard that word in a long time. I forgot when was the last time I heard that word on the news in the country. What is the latest news regarding the pasung case in my country, after 74 years of its independence?

Pasung is a form of punishment using wood to tie their feet and hands (KBBI, 2019). This method is mostly done in my country, Indonesia, to tie up people with mental disorders so that they do not hurt themselves or other people. However, pasung does not only occur in a family environment, it also does in institutions (Human Right Watch, 2016).

A few years ago, news about pasung done to people with mental disorders were widely published on television and in print media. The news shows how people with mental disorders are not handled well. In 2014, Indonesia had brought pasung-free discourse by reviewing the Minister of Home Affairs Letter PEM.29/6/15 of 1977. However, unfortunately the discourse has not been successful - seeing that the number of people with mental disorders who have suffered pasung in 2013 was 14,3% (57,000 people), this discourse was postponed to make Indonesia pasung-free in 2019 (Lestari & Wardhani, 2014).

News on pasung have become difficult to find lately. I don't know whether it is a lack of information or that my Indonesia finally has been able to free its people from the threat of pasung this year.

Pasung tends to worsen the patient's psychology. The solution is acceptance, treatment, and the desire to heal the patient.”

The latest news I can find is dated back in 2018. The news typically show that pasung does not alleviate and resolve mental disorders, but rather, it does the opposite. Pasung tends to worsen the patient's psychology. The solution is acceptance, treatment, and the desire to heal the patient. Also, post-pasung treatment for sufferers is one of the most important solutions.

I really don't know much. When I found out that some of the country's children with amazing achievements had been victims of poverty due to ignorance in dealing with the disease, I was shocked. Who would have thought?

Some cases of pasung victims in Indonesia who are able to achieve extraordinary achievements, are concrete examples that pasung is not the right way to deal with mental illness. Pasung was once the past for Anto Sugianto, who was diagnosed with severe depression, causing him to be sent to the mental clinic when he tried to leave home. Pasung worsened his condition. His great desire to live a normal life again managed to get Anto out of his depression, and now he works as an English teacher with great achievements (Sabandar, 2016). His illness was no hindrance in reaching his goals.

I realize that after 74 years of independence, there are still many children of Indonesia yet to be independent, who are still shackled by the diagnosis of their illnesses and left behind from the desire to be humanized like humans in general. Pasung is not the solution, nor is it the answer.



Learn more about mental health at Seribu Tujuan


References

Lestari, W & Y.F. Wardhani. 2014. Stigma dan Penanganan Penderita Gangguan Jiwa Berat yang Dipasung. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan 17(2): 157–166.

Sabandar, S. 2016. Kisah Guru Bahasa Inggris Dipasung Akibat Ketidaktahuan. https://www.liputan6.com/regional/read/2622349/kisah-guru-bahasa-inggris-dipasung-akibat-ketidaktahuan

Human Right Watch. 2016. Indonesia: Menangani Kesehatan Jiwa dengan Cara Dipasung. https://www.hrw.org/id/news/2016/03/20/287598

Sahana, M. 2015. Indonesia Menuju Bebas Pasung Terhadap Penderita Gangguan Mental. https://www.voaindonesia.com/a/indonesiamenuju-bebas-pasung-terhadap-penderita-gangguan-mental/2653154.html

Yasmin, P.A. 2017. Dulu Disebut Gila dan Pernah Dipasung, Kini Anto Sarat Prestasi. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3464214/dulu-disebut-gila-dan-pernah-dipasung-kini-anto-sarat-prestasi

Tanaya S.
Blog Contributor