INSIGHT

Pola bunuh diri lintas gender, lokasi dan pekerjaan

13 September 2019 • Bacaan 8 menit

PERINGATAN: Artikel ini mengandung informasi mengenai bunuh diri yang mungkin mengganggu bagi beberapa orang.

Satu orang di dunia bunuh diri tiap 40 detik.
Lebih dari 800.000 kematian tiap tahun disebabkan oleh bunuh diri.
Di tahun 2020, diprediksikan satu kematian setiap 20 detik disebabkan oleh bunuh diri (Cornain, 2018)

Dengan naiknya angka bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir, penting bagi kita, sebagai populasi dan komunitas, meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai masalah ini. Bunuh diri, merenggut nyawa sendiri, bisa menjadi hasil yang tidak menguntungkan dari masalah pribadi yang kompleks, dan pada banyak kasus, penyakit mental yang belum ditangani atau dirawat secara memadai. Untungnya, meskipun demikian, adalah kita, teman-teman dan keluarga dari seseorang yang berfikir atau bermaksud untuk bunuh diri, bisa bertindak sebagai penghalang. Melalui kemauan kita untuk mendengarkan dengan sabar dan tidak menghakimi, kita bisa menunjukan pada seseorang yang mungkin sedang berjuang secara emosional bahwa mereka tidak sendiri dan mereka memiliki orang-orang yang sangat peduli pada mereka. Langkah selanjutnya adalah pertolongan professional, baik itu dalam bentuk dokter umum, konselor, psikolog atau psikiater.

“Di Indonesia, bunuh diri dikenal sebagai pembunuh rahasia.”

Orang-orang mencoba untuk tidak membicarakannya, untuk menyanggahnya, menolak mencari atau meminta pertolongan sampai terlambat. Ada stigma melingkupi penyakit mental dan bunuh diri yang belum terpatahkan di banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Angka rata-rata kematian di Indonesia karena bunuh diri adalah 24 per 100.000 dari populasi.
Kematian karena bunuh diri meningkat secara stabil di Indonesia.
Pada tahun 2006, sekitar 100.000 orang di Jakarta meninggal karena bunuh diri. (Wirasto, 2012)

Apakah angka kematian bunuh diri berubah berdasarkan gender?

Pada tahun 2016 di Indonesia, 5.2 dari 100.000 laki-laki dan 2.2. dari 100.000 perempuan meninggal karena bunuh diri. Sementara banyak factor dapat dihitung untuk perbedaan yang berbeda, sebagian besar termasuk kerentanan spesifik gender dalam hal psikologi dan biologi. Ada pola global untuk ini, angka kematian di sebagian besar negara meninggi pada wanita dibanding pria (China menjadi pengecualian) (Vijayakumar, 2015).


Kesulitan finansial sebagai faktor resiko untuk bunuh diri

Bunuh diri adalah nasib malang dari akumulasi kompleks berbagai factor yang dialami oleh seseorang, ditemani oleh perasaan tidak berdaya yang luar biasa. Permasalahan ekonomi dapat mengekpos seorang individu, terutama mereka yang memiliki tanggung jawab finansial tunggal untuk keluarga mereka., untuk stress yang tidak semestinya dan kelelahan emosional. Hasilnya, masyarakat kelas menengah ke bawah berada dalam resiko tinggi bunuh diri dibanding masyarakat Indonesia kelas atas.

Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta) memiliki tingkat bunuh diri remaja tertinggi di Indonesia

Di Gunung Kidul, ada fenomena kultural yang disebut “pulung gantung”, sebuah takhayul yang dipegang oleh penduduk sekitar bahwa seseorang mati bunuh diri karena dikunjungi oleh cahaya misterius pada malam sebelumnya, atau diberi pertanda. Sedangkan kenyataannya, tingkat kerentanan bunuh diri di kabupaten ini dapat dikaitkan dengan peningkatan prevalensi penyakit mental, terutama pada populasi orang tua, factor kultural mempengaruhi penduduk untuk percaya bahwa bunuh diri terjadi karena hal supernatural, dan oleh karena itu tidak terhindarkan. Mereka yang mengalami gangguan mental tidak dianjurkan mencari bantuan, dan itu menempatkan mereka pada kerentanan yang tinggi untuk berkontribusi pada statistik ini.

Provinsi lain di Indonesia yang memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi adalah Bali. Mereka yang meninggal karena bunuh diri di area ini, 33.9% juga mengalami gangguan mental yang serius yang menempatkan mereka di bawah severe tekanan emosional dan trauma (Wirasto, 2012).

Sementara upaya terbaru di Indonesia untuk mengurangi angka bunuh diri adalah penyelenggaraan panggilan pertolongan. psikolog juga dididik tentang peran mereka dalam pencegahan bunuh diri, terutama melalui deteksi dini, menejemen dan program sekolah yang meningkatkan kesadaran mengenai bunuh diri di kalangan remaja.

‘Jumlah psikiater di negara ini hanya 820. Tentu saja ini tidak cukup…  psikiater-psikiater ini hanya tersedia di kota-kota besar’ 
- Danardi Sosrosumihardjo, ketua Asosiasi Psikiater Indonesia (PDSKJI)

Banyak yang bisa dilakukan untuk menangani seseorang begitu merka ditemukan beresiko bunuh diri, namun aspek pencegahan saat ini seringkali diabaikan. Stigma di sekitar penyakit mental itu fatal. ini mencegah orang untuk mencari dukungan dan pertolongan, yang berpotensi menjadi titil paling krusial di hidup mereka, menambah rasa takut dan ketidakpastian saat mereka berjuang. Masalah ini akhirnya menjadi inti, tidak hanya pada masyarakat Indonesia, tapi populasi kita di seluruh dunia: kita perlu menghapus stigma sekitar gangguan mental. Hanya dengan begitu penyembuhan bisa terjadi.



Pelajari pencegahan bunuh diri lebih lanjut di Seribu Tujuan

Sumber

Cornain, E. (2018). One life lost is one too many: Understanding suicide. The Jakarta Post. [online] Available at: https://www.thejakartapost.com/life/2018/08/01/one-life-lost-is-one-too-many-understanding-suicide.html [Accessed 6 Aug. 2019].

Vijayakumar, L. (2015). Suicide in women. Indian Journal of Psychiatry, 57(6), p.233.

Wirasto, R. (2012). Suicide Prevention in Indonesia: Providing public advocacy. JMAJ, [online] 55(1). Available at: https://www.med.or.jp/english/journal/pdf/2012_01/098_104.pdf [Accessed 6 Aug. 2019].

INSIGHT

The patterns of suicide across gender, location and occupation

13 September 2019 • 7 minute read

TRIGGER WARNING - This article contains information about suicide, which may be upsetting to some people.

One person in the world completes suicide every 40 seconds.
More than 800,000 deaths each year are attributed to suicide.
By 2020, it is predicted that one death every 20 seconds will be caused by suicide. (Cornain, 2018)

With an increase in deaths by suicide within recent years, it is necessary that we, as a population and a community, improve our awareness and understanding of this issue. Suicide, the taking of one’s own life, can be the unfortunate result of complex personal problems, and in many cases, mental illness that has not been sufficiently treated or attended to. Thankfully, however, it is us, the friends and family of a person contemplating or idealising suicide, who can act as a barrier. It is through our willingness to listen compassionately and nonjudgmentally, that we can show a person who may be struggling emotionally that they are not alone, and that they have people who care deeply for them. The next step is professional help, whether it be in the form of a GP, counsellor, psychologist or psychiatrist.

In Indonesia, suicide is known as the ‘secret killer’.

People try not to speak of it, to deny it, avoid seeking or offering help until it is too late. There is a stigma surrounding mental illness and suicide that is yet to be broken in countless countries around the world, including Indonesia.

The average rate of death in Indonesia due to suicide is 24 per 100,000 of the population.
Deaths caused by suicide are increasing at a steady rate in Indonesia.
In 2006, approximately 100,000 people in Jakarta died by suicide. (Wirasto, 2012)

Do suicide rates change according to gender?

As of 2016 in Indonesia, 5.2 per 100,000 males and 2.2 per 100,000 females died by suicide. While many factors can account for this distinct difference, most include gender-specific vulnerabilities in psychology and biology. There is a global pattern to this, with rates of suicide in most countries being higher in women than men (China being the exception) (Vijayakumar, 2015).

Financial difficulties as a risk factor for suicide

Suicide is the unfortunate result of a complex accumulation of numerous risk factors experienced by a person, accompanied by an overwhelming feeling of helplessness. Economical problems can expose an individual, particularly those with the sole financial responsibility for their families, to undue stress and emotional exhaustion. As a result, lower-to-middle class citizens are at a higher risk of suicide than higher-class Indonesians.

The Gunung Kidul regency (Yogyakarta) has the highest adolescent suicide rate in Indonesia

In Gunung Kidul, there is a cultural phenomenon termed “pulung gantung”- a superstition held by locals that a person who dies by suicide has done so as a result of being visited by a mysterious light the night before, or an omen. While in reality, the steady incline of suicide rate within this regency can be mainly attributed to an increase in the prevalence of mental illness, particularly among the elderly population, cultural factors have prompted inhabitants to believe suicide as a direct result of supernatural causes, and therefore unpreventable. Thus those who experience mental illness are discouraged from seeking help, and place themselves at a heightened vulnerability of contributing to this very statistic.

Another province in Indonesia associated with high suicide rates is Bali. Of those who died by suicide within this area, 33.9% also experienced serious physical illness that placed them under severe emotional stress and trauma (Wirasto, 2012).

While the latest efforts in Indonesia to reduce suicide rates include the enforcement of a help line, physicians are also being educated on their primary role in suicide prevention, particularly through early detection, management and school programs that raise awareness of suicide among adolescents.

'The number of psychiatrists in the country is a mere 820. Of course it is not enough … these psychiatrists are available only in major cities.’
- Danardi Sosrosumihardjo, chairman of the Indonesian Psychiatrists Association (PDSKJI)

Much can be done to treat an individual once they are found at risk of suicide, however the aspect of prevention is currently being ignored. The stigma surrounding mental illness is fatal. It prevents people from seeking support and help, at potentially the most crucial point in their lives, and adds fear and uncertainty when they are already struggling. The problem is ultimately at the core, not only of Indonesian society, but our population as a whole: we need to erase the stigma surrounding mental illness. Only then can healing happen.



Learn more about suicide prevention at Seribu Tujuan


References

Cornain, E. (2018). One life lost is one too many: Understanding suicide. The Jakarta Post. [online] Available at: https://www.thejakartapost.com/life/2018/08/01/one-life-lost-is-one-too-many-understanding-suicide.html [Accessed 6 Aug. 2019].

Vijayakumar, L. (2015). Suicide in women. Indian Journal of Psychiatry, 57(6), p.233.

Wirasto, R. (2012). Suicide Prevention in Indonesia: Providing public advocacy. JMAJ, [online] 55(1). Available at: https://www.med.or.jp/english/journal/pdf/2012_01/098_104.pdf [Accessed 6 Aug. 2019].

Niruni A.
Blog Contributor