INSIGHT

Kesehatan Mental dan Militer:
The Strong Silent Soldier

16 Oktober 2019 • Bacaan 5 menit

Menurutku, kami sering menekankan kekuatan, kerja keras dan ketangguhan dalam budaya Asia. Kaum lelaki di komunitas kita, khususnya, diharapkan untuk menanggung beban berat dalam hidup mereka; untuk tidak pernah menangis; untuk tidak pernah membicarakan perasaan mereka; untuk tidak pernah menderita. Ketika seorang anak laki-laki pergi berperang, kami tidak mengatakan ‘aduh kasihan ya’, kami mengatakan ‘di situlah ia akan menjadi laki-laki dewasa’. Pria ideal, dalam banyak budaya Asia, adalah Strong Silent Soldier: tentara yang kuat dan tidak pernah mengeluh.

Tetapi, apa yang kita korbankan untuk menggapai sosok ideal ini? Apa dampak yang diberikan dari impian untuk menjadi kuat dan tidak pernah mengeluh bagi seorang prajurit?

Pembicaraan seputar kesehatan mental dan pelayanan kesehatan mental di kalangan militer baru-baru ini menjadi sorotan, meskipun sudah terdapat bukti tentang dampak perang terhadap kesehatan mental selama lebih dari seabad (Zillmer & Kennedy, 2012). Selama Perang Sipil AS, misalnya, tentara dilaporkan mengalami "mania akut dan kronis, alkoholisme, bunuh diri ... dan penyalahgunaan zat kimia" namun pengobatan secara formal untuk gejala-gejala ini jarang tersedia dan secara praktis tidak ada. Kemudian, dalam Perang Dunia I, gejala-gejala seperti kehilangan ingatan, kesulitan untuk mengambil keputusan, dan gangguan dengan kemampuan bicara, disebut sebagai "shell-shock". Seperti yang diusulkan, ketika seorang prajurit terkena bom, hal ini merusak otak mereka dan menyebabkan perubahan ini (Bhattacharjee, 2008). Sekarang, kita tahu ini adalah gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Bahkan, seratus tahun yang lalu, menghubungkan gejala psikologis dengan penyebab fisik lebih mudah untuk dilakukan dan tidak dianggap 'lemah'.

Saat ini, kenyataan bahwa pengalaman buruk dari ngerinya perang terkait dengan depresi berat, PTSD, penyalahgunaan zat, dan meningkatnya perilaku bunuh diri mulai dimengerti (untuk informasi lebih lanjut tentang topik-topik ini, silakan kunjungi Seribu Tujuan). Sekitar 20-30% tentara yang aktif bertugas melaporkan bahwa mereka mengalami salah satu gejala dari gangguan yang disebutkan di atas (Hoge, Auchterlonie & Milliken, 2006; Greene-Shortridge, Britt & Castro, 2007). Di AS dan sebagian besar negara Barat lainnya, layanan kesehatan mental ditawarkan kepada para veteran selama tugas mereka dan setelah bertugas, untuk membantu dalam perjalanan mereka kembali ke kehidupan sosial. Namun, banyak negara Timur belum melakukan ini. Saat ini, di Indonesia, dengan adanya penggunaan pasung yang masih umum dan kurangnya pengakuan pemerintah mengenai masalah kesehatan mental, sepertinya Indonesia masih membutuhkan waktu yang lama sebelum bisa memberikan layanan ini.

Namun, bisa dibilang bahwa masalah yang lebih besar dari kurangnya dukungan secara formal dan dukungan dari pemerintah adalah stigma tentang gangguan psikologis yang ada di seluruh dunia. Sebuah penelitian pada tahun 2004 (Hoge et al., 2004) menemukan bahwa hanya 38-45% tentara dengan gangguan kesehatan mental di AS bersedia untuk mencari bantuan dari profesional; bahkan lebih sedikit tentara (23-40%) benar-benar mencari bantuan ini di tahun berikutnya. Penyebab utama hal ini diidentifikasi sebagai stigma sosial tentang penyakit mental, yang dianggap bisa mempengaruhi kesediaan prajurit untuk menangani masalah ini dengan serius seperti jika mereka menangani kondisi fisik mereka (Greene-Shortridge, Britt & Castro, 2007). Mungkin ada pendapat bahwa, di negara-negara di mana penyakit mental masih menjadi topik yang tabu, tentara lebih mungkin untuk tidak mencari bantuan bahkan jika ada layanan tersedia, karena takut hal itu akan membuat mereka terlihat lemah.

Gagasan ini mengajukan sebuah pertanyaan: apakah kehidupan para prajurit perlu dikorbankan hanya untuk memenuhi pandangan ideal kita tentang Prajurit yang Kuat dan Diam?

INSIGHT

Military and Mental Health:
The Strong Silent Soldier

16 October 2019 • 5 minute read

I think often in Asian cultures we emphasise strength, hard-work and toughness. Our men, especially, are expected to bear the brunt; to never cry; to never talk about their feelings; to never suffer. When a young boy goes to war, we don’t say ‘poor thing’, we say ‘that is where he will become a man’. The ideal man, in many Asian cultures, is the Strong Silent Soldier

But what do we sacrifice to reach this ideal? What effects do the expectations of strength and silence have on the soldier? 

Conversations around mental health and service in the military have only recently been brought into the spotlight, despite the fact there has been evidence of the effects of war on mental health for over a century (Zillmer & Kennedy, 2012). During the US Civil War, for example, soldiers were reported to experience “acute and chronic mania, alcoholism, suicidal behaviour…and substance abuse” yet formal treatment for these symptoms were rare and practically non-existent. Later, in World War I, symptoms such as memory deficits, decision-making difficulties, and speech problems were called “shell-shock”, as it was proposed that when a soldier was exposed to a bomb, it damaged their brain and caused such changes (Bhattacharjee, 2008). Now, we know these to be symptoms of Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Even a hundred years ago, it was easier and less ‘weak’ to attribute psychological symptoms to a physical cause. 

Today, it is understood that exposure to the horrors of war are linked to major depression, PTSD, substance abuse, and increased suicidal behaviour (for further information on these topics, head over to Seribu Tujuan). Approximately 20-30% of soldiers in active duty report experiencing symptoms of one of the above-mentioned disorders (Hoge, Auchterlonie & Milliken, 2006; Greene-Shortridge, Britt & Castro, 2007). In the US and most other Western countries, mental health services are offered to veterans during and after their service, to aid them in their journey of re-entering society. Yet, many Eastern countries have yet to adopt this practice. Today in Indonesia, the common use of pasung and the lack of government acknowledgement of mental health issues has meant that such services are still a long way away.

However, arguably, a bigger problem than the lack of formal and governmental support is the cultural stigma associated with psychological disorders, which is prevalent all over the world. A study in 2004 (Hoge et al., 2004) found that only 38-45% of soldiers with mental health disorders in the US indicated willingness to seek professional help; even less (23-40%) actually sought such help in the following year. The root cause of this is identified to be the social stigma of mental illness, which is thought to affect soldiers’ willingness to treat the problem as seriously as they would a physical condition (Greene-Shortridge, Britt & Castro, 2007). One could argue that in countries where mental illnesses are still a taboo topic, soldiers would be unlikely to seek help even if there were services in place, for the fear that it will make them look weak.

This notion begs the question: is our ideal of the Strong Silent Soldier worth the lives of our actual soldiers?

Minjin O.
Blog Contributor