INSIGHT

Pengungsi dan Kesehatan Mental: Kehidupan dalam ketidaktentuan

2 October 2019 • Bacaan 5 menit

Oxford Dictionary (Kamus Oxford) mendefinisikan pengungsi sebagai orang yang dipaksa untuk meninggalkan negaranya dalam rangka melarikan diri dari perang, perlakuan buruk, ataupun bencana alam.

Saat ini sekitar 70,8 juta orang di dunia dipaksa pergi dari negaranya. Jumlah ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah. Hal ini berarti kita hidup di dunia dimana hampir setiap dua detik, satu orang dipaksa untuk pergi dari negara akibat konflik atau perlakuan buruk. Pada tahun 2018, UNHCR (organisasi PBB yang bertugas mengurusi pengungsi) melaporkan bahwa ada sekitar 13.863 orang pengungsi yang mencari suaka di Indonesia. Pengungsi datang dari berbagai negara termasuk Afghanistan, Somalia, dan Myanmar.

Indonesia bukan merupakan negara yang menandatangani Konvensi Pengungsi PBB. Kebanyakan pengungsi berada di Indonesia hanya untuk singgah untuk menunggu ditempatkan kembali di negara lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak wajib bertanggung jawab atas kesejahteraan pengungsi atau pencari suaka yang kemudian berdampak pada tidak legalnya pengungsi untuk bekerja, mendapatkan uang secara mandiri, atau belajar dan bersekolah di Indonesia. Diluar itu, berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Australia memotong dana dan kuota pengungsi mereka sehingga berdampak pada tindakan UNHCR yang mengumumkan 2017 kemarin bahwa penempatan di negara selanjutnya dibatasi untuk pengungsi yang berada di Indonesia. Hal ini berarti kesempatan ditempatkan kembali untuk pengungsi di Indonesia menjadi terbatas. Berita ini kemudian berdampak buruk pada mereka yang kesehatan mentalnya sudah terancam.

Pengungsi mengalami banyak kesulitan karena mereka pergi ke negara asing, tidak bisa berbicara bahasanya, dan seringkali tidak disambut dengan baik. Terbiasa dipaksa untuk hidup di lingkungan yang tidak manusiawi, mereka memilih untuk hidup di jalanan. Pengungsi di Indonesia hidup dengan ketidakpastian dan kecilnya harapan yang kemudian bisa berakibat pada munculnya depresi dan kecemasan.

Majid Hussaini adalah pengungsi berusia 23 tahun dari Afghanistan yang sekarang bertempat di Indonesia. Dia harus meninggalkan negaranya setelah terjadinya perang saudara akibat rasisme yang semakin meningkat di Afghanistan, yang membahayakan hidup kelompok minoritas tertentu, termasuk kelompok Majid.

"Sudah 7 tahun kami berjuang menghadapi berbagai rintangan setiap hari. Saat kami bangun, tidak ada yang bisa kami lakukan dan kamar kami terasa seperti penjara.
1. Kami tidak boleh bekerja
2. Kami tidak punya akses pendidikan dan bantuan kesehatan
3. Kami sudah dilupakan dan prosesnya tidak adil bagi pengungsi tunggal
4. Kami sudah sangat lelah dengan situasi ini; banyak teman sesama pengungsi memutuskan untuk mati dengan mengakhiri hidup mereka." 

Majid mengatakan bahwa hidup selama 7 tahun dalam kebingungan tanpa akses ke pekerjaan dan pendidikan, tanpa bisa bertemu keluarga, menghadapi masalah keuangan; semua ini menyebabkan seseorang kehilangan harapan secara perlahan-lahan. Ia menambahkan bahwa ia sering mengalami depresi dan serangan panik, tetapi sayangnya ia tidak punya akses bantuan perawatan kesehatan mental.

Saat ini, protes-protes secara damai sedang berlangsung di depan banyak kantor PBB di sekitar Indonesia, di mana mereka meminta pemerintah dan PBB untuk bertindak. Dia dan banyak pengungsi lainnya berharap protes yang bersifat damai akan mengarah ke proses yang lebih adil dan pemindahan ke negara ketiga, terutama bagi pengungsi tunggal.

Sumber

American Immigration Council. (2019). An Overview of U.S. Refugee Law and Policy. [online] Available at: https://www.americanimmigrationcouncil.org/research/overview-us-refugee-law-and-policy [Accessed 6 Sep. 2019].

Anugrahadi, A. (2019). Warga Menolak Pengungsian di Kalideres, Ini Kata Pencari Suaka. [online] liputan6.com. Available at: https://www.liputan6.com/news/read/4012401/warga-menolak-pengungsian-di-kalideres-ini-kata-pencari-suaka [Accessed 6 Sep. 2019].

Aph.gov.au. (2019). Refugee resettlement to Australia: what are the facts? – Parliament of Australia. [online] Available at: https://www.aph.gov.au/About_Parliament/Parliamentary_Departments/Parliamentary_Library/pubs/rp/rp1617/RefugeeResettlement [Accessed 6 Sep. 2019].

SBS News. (2019). Australia's refugee policy is out of step with global standards and breaks international law: report. [online] Available at: https://www.sbs.com.au/news/australia-s-refugee-policy-is-out-of-step-with-global-standards-and-breaks-international-law-report [Accessed 6 Sep. 2019].

Un.org. (2019). Refugees. [online] Available at: https://www.un.org/en/sections/issues-depth/refugees/ [Accessed 6 Sep. 2019].

INSIGHT

Refugee and Mental Health: Living in uncertainty

2 October 2019 • 5 minute read

The Oxford Dictionary defines refugees as a person who has been forced to leave their country in order to escape war, persecution or natural disaster.

The world is witnessing the highest levels of displacement on record, with a total of 70.8 million people around the world that are forced from home. This means we live in a world where nearly 1 person is forcibly displaced every 2 seconds either as a result of conflict or persecution, as reported by the UN. It is reported in 2018 by UNHCR that there is a total of 13,863 seeking refuge in Indonesia. These refugees come from 49 different countries which include Afghanistan, Somalia and Myanmar. 

Indonesia is not a signatory to the UN Refugee Convention and therefore refugees in Indonesia are mostly in transit, waiting to be resettled to a third country. This also means that our country does not take responsibility of the livelihood of asylum seekers or refugees. Which leads to refugees not permitted by law to work in any capacity, earn money independently or attend Indonesian schools. On top of this, multiple nations such as the USA and Australia are cutting down their funding and refugees quota, which led to UNHCR announcing in 2017 that resettlement in a third country had become limited for refugees in Indonesia. This means that there is limited to no opportunity for Indonesian refugees to be resettled.  This news further impacts their already vulnerable mental health.

Having to travel to a foreign country, not speaking the language here and often not welcomed, many refugees face many struggles. Usually forced into inhumane conditions, leading to many preferring to live on the streets, refugees in Indonesia live with uncertainty and hopelessness, leading to many developing depression and anxiety.

Majid Hussaini is a 23 years old refugee from Afghanistan currently in Indonesia. He had to leave his country after the civil war due to the increasing racism in Afghanistan, which endangered the lives of specific minority groups, including Majid’s.

“It has been 7 years that we fight with many challenges every single day. When we wake up we have nothing to do and our room has felt like a prison to us. 
1. We are not allowed to work
2. We don’t have access to education and health support.
3. We have been forgotten and the process is not fair for single refugees.
4. We are totally tired of this situation with many of my fellow refugees deciding to die because of suicide.” 

Majid mentions that living for 7 years in limbo without access to work and education, without being able to meet his family, facing financial challenges; it causes one to lose hope slowly. He mentions that he is depressed and experiencing panic attacks often but unfortunately,  he has no access to mental health care help.

Currently there are ongoing peaceful protests in front of many UN offices around Indonesia, wanting governments and the UN to take action. He and many other refugees hope that the peaceful protest may lead to a more fair process and resettlement to a third country, specifically single refugees.

References

American Immigration Council. (2019). An Overview of U.S. Refugee Law and Policy. [online] Available at: https://www.americanimmigrationcouncil.org/research/overview-us-refugee-law-and-policy [Accessed 6 Sep. 2019].

Anugrahadi, A. (2019). Warga Menolak Pengungsian di Kalideres, Ini Kata Pencari Suaka. [online] liputan6.com. Available at: https://www.liputan6.com/news/read/4012401/warga-menolak-pengungsian-di-kalideres-ini-kata-pencari-suaka [Accessed 6 Sep. 2019].

Aph.gov.au. (2019). Refugee resettlement to Australia: what are the facts? – Parliament of Australia. [online] Available at: https://www.aph.gov.au/About_Parliament/Parliamentary_Departments/Parliamentary_Library/pubs/rp/rp1617/RefugeeResettlement [Accessed 6 Sep. 2019].

SBS News. (2019). Australia's refugee policy is out of step with global standards and breaks international law: report. [online] Available at: https://www.sbs.com.au/news/australia-s-refugee-policy-is-out-of-step-with-global-standards-and-breaks-international-law-report [Accessed 6 Sep. 2019].

Un.org. (2019). Refugees. [online] Available at: https://www.un.org/en/sections/issues-depth/refugees/ [Accessed 6 Sep. 2019].

Jennifer B.
Blog Contributor