STORIES

Maskulinitas dan Kesehatan Mental: Mempertanyakan ideal masyarakat

29 November 2019 • Bacaan 8 menit

Dalam sebagian besar waktu di hidupku, aku tak pernah menyadari pandangan dan cara pikirku mengenai maskulinitas dapat memberikan efek negatif padaku. Pada saat itu, cara pikirku mengenai maskulinitas tidaklah baik. Kalau kamu memintaku penjelasanku, aku hanya berpikir sebatas skala “seseorang yang tak bisa memasang lampu hingga seorang lelaki berotot dan berjanggut yang tinggal di dalam sebuah pondok kayu yang ia buat dengan tangannya sendiri”. Bagiku, laki-laki adalah seseorang yang independen, kuat, sangat seksual, memiliki rasa harga diri yang tinggi, dapat memutuskan sesuatu, serta berperan sebagai seorang pencari nafkah yang terlalu sibuk untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak dan membersihkan rumah. Cara pandang seperti inilah yang menjadi semacam kiblat yang aku dan sebagian besar laki-laki impikan dan jadikan tujuan hidup.

Ada sebuah tekanan yang dirasakan untuk menjadi laki-laki yang telah kudeskripsikan di atas, seakan-akan hanya seperti hal itulah yang membuat seorang laki-laki benar-benar seorang yang jantan. Apabila aku tak berlagak seperti itu, aku merasa ada hal yang salah dengan diriku, yang dapat membuatku kehilangan teman dan tak akan ada perempuan yang tertarik padaku. Karena hal ini dianggap berbahaya yang dapat menyebabkan seseorang tak bisa membaur dengan lingkungan di sekitarnya dan segala konsekuensi yang mengikuti hal tersebut, aku mengikuti cara pikir tentang bagaimana seorang laki-laki harus berlagak seperti umumnya. Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa dengan mengikuti hal ini, aku tak dapat menjadi diriku sendiri. Cara pikir dan ekspektasiku terhadap apa yang membuat seorang laki-laki benar-benar jantan tak mencerminkan diriku ataupun nilai-nilai dalam diriku. Aku melihat bawa ketidakcocokan ini menghentikan aku dalam mencapai potensiku sebagai seorang manusia seutuhnya, dimana aku lebih fokus terhadap menjadi seorang “laki-laki” daripada menjadi diriku sendiri.

Kesadaran ini menandai sebuah perjalanan yang panjang dan lambat yang kutempuh dalam proses mengenali diri sendiri yang bahkan masih kulakukan hingga saat ini. Proses ini menyangkut menyadari sebuah nilai yang kupegang bukanlah nilai yang sebenarnya kurasakan, yang membuatku membantah dan mengganti nilai yang sebenarnya kupegang.

Untuk sementara waktu, pada awal proses ini, aku berpikir bahwa kebanyakan dari sifat maskulin merupakan sesuatu yang buruk. Aku melihat banyak laki-laki maskulin yang suka membanggakan dirinya sendiri, tak sopan, egois, “kuat” yang sebetulnya malah lebih ke arah kasar, dan mudah marah. Laki-laki seperti ini biasanya meletakkan dirinya, cara pikirnya, dan nilai-nilai yang mereka pegang di atas orang lain. Aku tak menyukai gaya hidup seperti ini karena menurutku hal ini dapat membahayakan diri dan siapapun di sekitar mereka.

Setelah berpikir lebih dalam lagi, akhirnya aku menyadari bahwa ada banyak sifat-sifat maskulin yang bernilai lebih saat diterapkan dengan cara yang benar. Aku memutuskan untuk membentuk diriku menjadi seseorang yang lebih baik berdasarkan nilai-nilai yang kupilih sendiri. Hal ini juga melibatkan beberapa nilai yang dipandang feminim yang juga ikut mengimbangi nilai-nilai yang dianggap maskulin.Salah satu nilai maskulin yang paling penting bagiku adalah kebebasan. Sifat mandiri dapat dengan mudah menjadi sesuatu yang meracuni pola pikir pada laki-laki, yang dapat mengarah kepada sifat kaku, dimana seorang laki-laki tak seharusnya menunjukkan atau membagi emosinya, menyangkal dirinya dan orang lain. Namun, apabila dilakukan dengan benar, kebebasan merupakan hal yang sangat bagus. Adalah sebuah kebebasan bagiku untuk membersihkan rumah, merawat badan dan pikiran, serta memasak makanan yang sehat bagiku. Tentu saja, hal-hal di atas pada hakikatnya bukanlah hal yang dipandang maskulin, namun merupakan hal dasar dalam proses  menjadi mandiri, dan untukku, menjadi mandiri dan dapat mengurus diri sendiri merupakan tanda dari seorang yang dewasa dan cakap.

Aku berpikir bahwa tanda terbesar dari kemandirian seseorang adalah dapat berpikur dengan bebas, mempertanyakan segala ide dan ideal yang dijunjung oleh orang lain dan memiliki kekuatan untuk tidak setuju bila perlu dan berpegang teguh pada prinsip dan diri sendiri. Hal ini baru-baru saja terpikir olehku. Selama bertahun-tahun aku memiliki syal berwarna merah jambu yang sangat kusukai. Namun, aku tak pernah berani untuk memakainya di hadapan banyak orang karena aku tak ingin tampil seperti perempuan. Aku berpikir aku akan dianggap kurang jantan oleh orang-orang di sekitarku, atau bahkan dianggap gay. Ketakutan yang kualami sama sekali tak masuk akal dan mereka mencermikan pemikiran toksik terhadap nilai maskulin yang tumbuh dalam diriku. Jadi, kupakai syal itu untuk menantang pemikiran toksik tersebut. Aku merasa ditekan untuk menjadi “jantan” yang pada akhirnya aku menyadari bahwa ungkapan yang lebih kuat  terhadap nilai maskulin bagiku adalah keinginanku untuk dapat menjadi bebas dan memakai syal yang kusuka tanpa peduli apa yang dipikirkan orang lain, dan tak menjadikan warna dari syal ini alasan untuk minder terhadap orientasi seksualku.

Hal di atas hanyalah sebuath contoh kecil yang membuktikan pada akhirnya hal-hal tersebut bukanlah hal yang besar. Walau begitu, masih banyak laki-laki yang menyerah pada tekanan dalam hal mendefinisikan apa yang membuat seorang laki-laki jantan, yang kadang sekecil masalah memakai syal atau tidak, atau mengungkapkan perasaan yang bahkan kadang seperti menolak sifat asli mereka. Aku merasa lebih ringan dibandingkan dengan mereka yang hidup dalam baying-bayang standar nilai maskulin yang menempatkan mereka dalam bahaya yang juga dapat member efek pada orang-orang di sekitar mereka.



Pelajari maskulinitas lebih lanjut di Seribu Tujuan


STORIES

Masculinity and Mental Health: Questioning the ideals of society

29 November 2019 • 8 minute read

For most of my life I never realised that the way I understood masculinity could have been having a negative effect on me. At the time I didn’t have a good idea of what masculinity is. If you had asked me to describe what I thought it was I would say it exists on a scale of “someone who can’t screw in a lightbulb to a muscular bearded man who lives in a log cabin hand built by himself.” For me a man was; independent, tough, highly sexual, straight, proud, had the final say and was the breadwinner who was too busy to do cleaning or cooking around the house. These ideas came to be a sort of script for life that I, and many other men aspired to live up too.

There existed a pressure to be the type of man this script puts forward, as this is what a man is. If I didn’t act in this way, I felt there was something wrong with me, that I risked losing my friends and that no woman would ever be attracted to me. Due to this perceived danger of not fitting in and the consequences that come with it, I followed the script of who I as a man should be. With time I came to realise that by following this script I wasn’t being myself. My ideas and expectations about what a man is and did not reflect myself or my values. I came to see that this dissonance was stopping me from reaching my full potential as a person as I became more focused on being a ‘man’ than being myself.

This realisation marked a long and slow process of self discovery that I am still to this day. This process involves realising a value I hold isn’t one that I actually feel, disputing it and substituting my own value.

For a while, early on in this process, I thought that most of masculinity was bad. I saw so many masculine men who were proud, rude, self centred, “tough” but really just violent and short tempered. These men tended to put themselves, their views, ideas and value before others. I resented this way of living as I saw it as causing harm both to themselves and those that surrounded them.

With a bit more thought however I realised that there are many masculine traits that are valuable when harnessed in the right ways. I decided to actively define and shape myself into a better person based off values I chose myself. This involved incorporating some values viewed as feminine, as well as masculine values. One of the masculine values I came to highly value is independence. It is all too easy for independence to become toxic in a man. It can lead to stoicism, wherein men don’t show or share emotions, cutting themselves off from themselves and others. However when properly approached independence is a great attribute. It is a desire for my own independence that sees me clean my house, take care of my body and mind and cook good healthy food for myself. None of these chores are traditionally masculine, however they are intrinsic to the process of being independent, and for me being independent and capable of providing for yourself is a mark of a mature person, and a capable man.

I think that one of the greatest signs of independence is thinking independently, questioning the ideas and ideals that others put forward and have the strength to disagree if needed and stand firm in ourselves and our own opinions. This came to a head in me recently. For years I have owned a pink scarf that I really liked. However I was never brave enough to wear it out in public. This was because a part of my didn’t want to appear effeminate. I thought I would be judged as less of a man by those around me, that people might assume I was gay. None of these fears made sense and they represented some deep seated toxic masculine attitudes within myself. So I wore the scarf to challenge these toxic beliefs. I felt pressured to be a ‘man’ and in the end realised that a stronger expression of my masculinity was my willingness to be independent and wear a scarf I liked regardless of what other people thought, and to not let the colour of a scarf makes me feel insecure in my sexuality.

This example is a small and petty example, that at the end of the day is not a big deal. However there are many men who succumb to the pressure of what it is to be a man, sometimes it’s something as small as such as not wearing a scarf, sometimes it’s not sharing or displaying emotions and sometimes it's denying a core aspect of their personality. I got off lightly compared to the burdens that living up to the standards of masculinity puts on many other men and how this affects the people who surround them.



Learn more about masculinity at Seribu Tujuan


Liam R.
Blog Contributor