Gaya Hidup dan Kesehatan Mental

Maskulinitas dan Kesehatan Mental

MULAI

Apa itu maskulinitas?

Maskulinitas merujuk pada karakteristik yang diasosiasikan dengan pandangan umum terhadap laki-laki. Beberapa karakteristik dari maskulinitas antara lain dapat diandalkan, berprestasi, ekspresi emosional yang terbatas, berani, asertif, memiliki karakter pemimpin, dan kuat. Karakteristik ini tidak semata-mata berbahaya tetapi apabila dianggap secara ekstrem dapat menimbulkan dampak negatif dan konsekuensi berbahaya pada emosi dan kesehatan mental laki-laki.

Maskulinitas yang tidak sehat dan dampak terhadap kesehatan mental

Maskulinitas yang tidak sehat (Toxic Masculinity) merupakan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan dampak negatif dari terlalu menganggap nyata karakteristik maskulin dengan menyorot maskulinitas seseorang lewat mendefinisikannya dengan kekerasan, jenis kelamin, status, dominasi, stoikisme, dan agresi.

Penelitian menunjukkan bahwa pandangan ini biasanya dibentuk ketika masa kanak-kanak dan berlanjut sepanjang hidup laki-laki tersebut. Beberapa kata-kata yang dapat menimbulkan tekanan pada laki-laki untuk hidup sesuai pandangan maskulinitas yang tidak sehat adalah sebagai berikut:

  • Jadi laki-laki ga boleh terbawa perasaan
  • Laki-laki ga nangis
  • Jadi laki-laki harus berani

Kata-kata di atas dapat berdampak negatif pada bagaimana laki-laki akan bersikap selanjutnya. Laki-laki mungkin merasa bahwa mereka tidak boleh mengekspresikan apa yang mereka rasakan sehingga tidak mencari pertolongan yang kemudian dapat menimbulkan mekanisme pertahanan yang tidak sehat seperti bekerja terlalu keras, melampiaskannya pada orang lain, dan kekerasan. Mekanisme pertahanan seperti ini dapat berkembang menjadi depresi dan kecemasan.

Penelitian menunjukkan bahwa walaupun perempuan yang terdiagnosa depresi dua kali lebih banyak daripada laki-laki, laki-laki 3,5 kali lebih rentan terhadap bunuh diri. Statistik ini menunjukkan bahwa laki-laki lebih jarang untuk mencari pertolongan ketika sangat dibutuhkan. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan yang salah terhadap maskulinitas dapat berdampak pada hidup dari laki-laki.

Maskulinitas yang tidak sehat juga dapat berdampak negatif pada orang-orang di sekitarnya. Maskulinitas yang tidak sehat dapat berkembang menjadi kekerasan domestik dimana laki-laki berusaha untuk mendominasi dan mendapatkan kontrol atas pasangannya yang kemudian dapat berubah menjadi ancaman kekerasan atau kekerasan apabila pasangannya tidak dapat dia kendalikan.

Strategi perubahan

Merubah cara pikir kita terhadap maskulinitas dapat mendorong laki-laki untuk dapat mengekspresikan emosi secara terbuka dan mencari pertolongan ketika dibutuhkan. Mengekspresikan emosi dan mencari pertolongan adalah hal yang normal. Menunjukkan empati dan dukungan terhadap mereka yang sedang berada dalam kondisi tidak baik merupakan langkah penting untuk memperbaiki kesehatan mental pada laki-laki. Berbicara mengenai emosi dan tidak menghina mereka yang tidak hidup dengan nilai "maskulinitas tradisional" adalah langkah pertama untuk menghilangkan maskulinitas yang tidak sehat. Perubahan pandangan terhadap maskulinitas dan maskulinitas yang tidak sehat akan memakan waktu karena keduanya merupakan nilai-nilai budaya yang membutuhkan waktu lama untuk berkembang menjadi nilai maskulinitas yang lebih baik dan sehat.

Sumber

American Psychological Association, Boys and Men Guidelines Group. (2018). APA guidelines for psychological practice with boys and men. Retrieved from http://www.apa.org/about/policy/psychological-practice-boys-men-guidelines.pdf

Iwamoto, D. K., Brady, J., Kaya, A., & Park, A. (2018). Masculinity and Depression: A Longitudinal Investigation of Multidimensional Masculine Norms Among College Men. American journal of men's health, 12(6), 1873–1881. doi:10.1177/1557988318785549

Mahalik, J. R., Good, G. E., & Englar-Carlson, M. (2003). Masculinity scripts, presenting concerns, and help seeking: Implications for practice and training. Professional Psychology: Research and Practice, 34(2), 123-131.

Silver, K. E., Levant, R. F., & Gonzalez, A. (2018). What does the psychology of men and masculinities offer the practitioner? Practical guidance for the feminist, culturally sensitive treatment of traditional men. Practice Innovations, 3(2), 94-106.

Suh, J., Ruffins, S.,Edward Robins, C., J. Albanese, M & Khantzian, E. (2008). Self-medication hypothesis: Connecting affective experience and drug choice (Vol.25)

United States Department of Health and Human Services, Centers for Disease Control and Prevention. (2015). National suicide statistics. Retrieved from https://www.cdc.gov/violenceprevention/suicide/statistics/