Gaya Hidup dan Kesehatan Mental

Merokok dan Kesehatan Mental

MULAI

Cara berhenti merokok dan Kesehatan Mental

Merokok menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan tubuh. Meskipun upaya untuk mengurangi tingkat merokok semakin ditingkatkan, tembakau masih merenggut nyawa sekitar 230.000 orang Indonesia per tahun. Selain itu, masih ada lebih dari 450.000 anak berusia 10-14 tahun, dan 53 juta orang dewasa yang merokok setiap hari¹.

Merokok membawa dampak pada banyak fungsi organ tubuh Anda. Merokok merupakan faktor risiko terbesar untuk sejumlah penyakit seperti kanker, penyakit jantung dan paru-paru². Diagram di bawah ini diambil dari Tobacco Atlas, Sixth Edition tentang efek penggunaan tembakau terhadap kesehatan:

Gambar 1: Tobacco Atlas, Sixth Edition, Health Effects; Pg 24 (The Tobacco Atlas, 2018)

Pada umumnya, perokok sadar akan dampak negatif merokok terhadap kesehatan mereka, tetapi mereka tetap merokok karena sifat adiktif merokok. Karena itu, sangatlah sulit bagi seorang perokok untuk berhenti.

Kandungan rokok dan dampaknya pada otak

Asap tembakau mengandung lebih dari 7.000 zat kimia, termasuk 70 zat karsinogen (dapat menyebabkan kanker).

Salah satu zat kimia ini adalah: Nikotin

Nikotin diserap melalui paru-paru dengan cepat dan berpindah ke otak dalam hitungan detik. Nikotin bekerja melalui berbagai jalur yang akan merangsang pelepasan dopamine, zat kimia yang akan menyebabkan timbulnya pengalaman yang menyenangkan. Pelepasan dopamin akan menurunkan rasa stres dan cemas, serta meningkatkan konsentrasi dan kinerja tugas-tugas tertentu. Namun, ketika seseorang berhenti merokok, hal ini menyebabkan munculnya gejala-gejala karena penarikan diri dari nikotin seperti mudah marah, depresi, rasa gelisah, dan meningkatnya rasa cemas, yang bisa mendorong seseorang untuk terus merokok dan pada akhirnya menyebabkan kecanduan.

Merokok memberi rewarding system sementara dan bersifat sangat adiktif. Paparan nikotin yang berulang-ulang akan menyebabkan otak beradaptasi atau menoleransi efek nikotin yang mendorong perokok untuk terus merokok serta meningkatkan jumlah rokok untuk mencapai tingkat efek yang sama.

Alasan lain mengapa seseorang merokok dan/atau terus merokok

Sifat adiktif nikotin merupakan salah satu alasan utama mengapa orang terus merokok. Namun, ada faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang untuk terus merokok.

Faktor-faktor risiko termasuk:

  • Pengaruh rekan atau orang tua
  • Karakteristik kepribadian (suka mengambil risiko, pemberontak, depresi dan/atau kecemasan)
  • Pemicu situasional atau dari lingkungan (misalnya kesulitan akademis, tekanan)
  • Mengaitkan merokok dengan kegiatan tertentu (misalnya setelah makan)
  • Pengaruh genetik

Cara berhenti merokok

Seperti yang telah dijelaskan diatas, merokok tembakau merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit, termasuk penyakit kardiovaskular. Namun, berhenti merokok pada usia berapapun akan secara langsung mengurangi risiko penyakit ini.

Berhenti merokok dapat menjadi hal yang sulit, terutama ketika mengalami akibat dari penarikan nikotin, yang merupakan pertanda bahwa tubuh perlahan memulihkan diri dari merokok. Gejala-gejala ini hanya berlangsung selama dua sampai empat minggu dan bagi beberapa orang dalam jangka waktu yang lebih panjang. Meskipun demikian, pada akhirnya gejala-gejala tersebut akan berlalu dan berhenti merokok akan menguntungkan Anda baik dalam jangka waktu pendek maupun panjang.

Gejala umum dari penarikan nikotin:

  • Keinginan kuat untuk merokok
  • Kegelisahan
  • Gangguan tidur
  • Mudah marah dan gelisah
  • Meningkatnya rasa lapar
  • Kecemasan dan/atau depresi
  • Emosi lain seperti marah, sedih, dan cenderung menangis

Gejala tidak umum penarikan nikotin:

  • Kepala terasa ringan
  • Gejala masuk angin seperti batuk, radang tenggorokan dan bersin-bersin; secara umum, badan terasa tidak enak
  • Konstipasi, diare, atau mual
  • Sariawan
  • Pusing

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk berhenti merokok. Salah satu cara yang penting adalah memahami alasan Anda merokok dan bersikap terbuka terhadap cara-cara untuk berhenti merokok. Banyak perokok mengalami kesulitan untuk berhenti merokok, apalagi dengan adanya gejala penarikan nikotin yang tertulis di atas. Beruntung, setelah bertahun-tahun, ada beberapa strategi yang telah dikembangkan agar dapat berhenti merokok.

Sebaiknya, Anda meminta bantuan profesional untuk berhenti merokok supaya Anda dapat memaksimalkan dukungan dan sumber daya yang tersedia.

QuitLine Indonesia: 0-800-177-6565

Merokok dan Kesehatan Jiwa

Berhenti merokok dan efeknya terhadap perubahan emosi

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, nikotin bekerja di reward system pada otak. Ini akan menyebabkan otak untuk 'menginginkan lebih banyak'. Seperti yang telah dijelaskan diatas, kecemasan dan stres adalah gejala umum yang dirasakan perokok saat mencoba untuk berhenti merokok. Otak akan melepaskan zat kimia tertentu yang menimbulkan kecemasan dan stres yang merupakan dorongan kuat untuk kembali merokok agar dapat memenuhi keinginan otak akan nikotin. Penting untuk memahami bahwa ini merupakan cara tubuh merespon tiadanya nikotin setelah tubuh lama terekspos oleh nikotin. Tidak lama kemudian, tubuh Anda akan mulai menyesuaikan diri untuk berfungsi tanpa nikotin dan gejala akibat penarikan nikotin akan hilang.

Merokok sebagai mekanisme pelarian

Karena merokok dapat menyebabkan peningkatan mood sementara, seseorang yang mengalami depresi mungkin akan melarikan diri dari depresi dengan merokok.

Meskipun merokok dapat meningkatkan mood Anda, merokok hanyalah merupakan pelarian sementara untuk melupakan rasa depresi karena merokok dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti disebutkan di atas. Studi juga menunjukkan bahwa merokok mendorong meningkatnya gejala depresi serta risiko depresi.

Dalam jangka panjang, merokok dapat menyebabkan ketergantungan, yang jika tidak dipenuhi dapat menyebabkan rasa stres dan kecemasan saat tubuh mengalami penurunan nikotin.

Ada berbagai kegiatan lain yang dapat kamu coba untuk mengatasi depresi kamu.

Untuk mengetahui lebih tentang depresi, klik disini.

Untuk mengetahui lebih tentang pilihan-pilihan perawatan dan pengobatan depresi, klik disini (farmakologis) dan disini (non-farmakologis).

Bantuan lebih lanjut di Indonesia

Anda dapat menghubungi nomor berikut untuk konsultasi gratis mengenai cara berhenti merokok: 0-800-177-6565

‘Batuk Perokok’ adalah kampanye Kementerian Kesehatan yang menginformasikan masyarakat mengenai bahaya merokok, terutama akibatnya terhadap sistem pernapasan. Kampanye ini mencakup layanan hotline berhenti merokok untuk membantu para penelpon yang ingin berhenti merokok.

Sumber

¹The Tobacco Atlas. (2016). Tobacco Atlas, Fifth Edition, Indonesia.Atlanta: American Cancer Society.

The Tobacco Atlas. (2018). The Tobacco Atlas, Sixth Edition, Indonesia.Atlanta: American Cancer Society. Retrieved from The Tobacco Atlas: https://tobaccoatlas.org/country/indonesia/

²World Health Organization . (2018). The fatal link between tobacco and cardiovascular diseases in the WHO South-East Asia Region, May 2018. Retrieved from NCD and Tobacco Surveillance : http://www.searo.who.int/entity/ncd_tobacco_surveillance/documents/wntd_18/en/

Hecht, S. S. (2011). Research Opportunities Related to Establishing Standards for Tobacco Products Under the Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act. Nicotine & Tobacco Research, 14(1), 18-28.

Hughes, J. R., & Hatsukami, D. (1986). Signs and Symptoms of Tobacco Withdrawal. Arch Gen Psychiatry , 43(3), 289-94.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017, 09 05). Batuk Perokok Tanda Awal Kerusakan Tubuh. Retrieved from Department Kesehatan: http://www.depkes.go.id/article/view/17090600001/batuk-perokok-tanda-awal-kerusakan-tubuh.html

Kenneth S. Kendler, M., Michael C. Neale, P., Charles J. MacLean, P., Andrew C. Heath, D., Lindon J. Eaves, P. D., & Ronald C. Kessler, P. (1993). Smoking and Major Depression: A Casual Analysis. Arch Gen Psychiatry, 50, 36-43.

Khaled, S. M., Bulloch, A. G., Williams, J. V., Hill, J. C., Lavorato, D. H., & Patten, S. B. (2012). Persistent heavy smoking as risk factor for major depression (MD) incidence – Evidence from a longitudinal Canadian cohort of the National Population Health Survey. Journal of Psychiatric Research, 46(4), 436-443.

World Health Organization. (2018). Tabacco Free Initiative. Retrieved from World Health Organization: http://www.who.int/tobacco/quitting/en/