MEMAHAMI KESEHATAN MENTAL

Stres

MULAI

Apakah itu stres?

Stres adalah suatu hal yang pasti dialami oleh seseorang dalam hidupnya. Untuk meminimalisir dampak negatif stres pada tubuh dan pikiran, penting untuk menyadari kapan anda mengalami stres dan bagaimana cara mengatasinya. Stres dapat disebabkan oleh banyak hal. Sebagian disebabkan oleh peristiwa-peristiwa dalam hidup yang memang dapat menyebabkan stres, sebagian lainnya disebabkan oleh persepsi kita yang menganggap sesuatu sebagai pemicu stres yang akhirnya benar-benar membuat kita stres, terlepas dari fakta apakah hal tersebut benar-benar menekan atau tidak. Karena itu, stres memiliki banyak bentuk seperti respon yang singkat dan spontan terhadap kejadian spesifik, atau beban jangka panjang di pikiran dan tubuh kita yang disebabkan oleh peristiwa stres yang sedang berlangsung.

Stres sesaat dapat terasa seperti salah satu bentuk ketegangan internal, kecemasan, frustrasi, atau panik. Stres ini memicu reaksi alami dalam tubuh kita saat dihadapkan dengan tantangan atau situasi berbahaya. Dalam jangka pendek, respon-respon ini bisa jadi positif karena dapat membantu kita menghadapi tantangan tersebut. Meski demikian, stres yang berkelanjutan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada tubuh dan pikiran kita.

Stres menyebabkan perubahan fisiologis dalam tubuh kita, mengaktifkan insting untuk melawan atau menghindar, serta mempersiapkan kita untuk menghadapi ancaman. Hal ini bermanifestasi di tubuh kita sebagai perubahan aliran darah, peningkatan detak jantung, pernapasan yang lebih cepat, penegangan otot, dan peningkatan tekanan darah. Respon yang lebih ekstensif dan halus terjadi di saat yang sama menyebabkan perubahan pada sistem saraf, peredaran darah, otonom, imun, dan metabolisme. Dalam jangka pendek, perubahan-perubahan ini sering menguntungkan karena dapat membantu fokus dan meningkatkan performa fisik kita, sehingga dapat membantu mengatasi sumber stres yang kita alami. Perubahan-perubahan tersebut juga dapat berdampak negatif pada tubuh kita karena aktivasi respon stres berkelanjutan menyebabkan beberapa sistem menjadi terlalu atau kurang teraktivasi. Hal ini dapat menyebabkan beberapa sistem yang terpengaruh menjadi aus, sehingga terjadi berbagai gangguan kesehatan di seluruh tubuh, misalnya sakit kepala, penyakit jantung, darah tinggi, sakit otot, masalah lambung dan usus serta gangguan tidur.

Tipe stres

Ada tiga tipe stres yang bisa memicu respon ini. Masing-masing tipe memengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda-beda, terkadang memiliki gejala yang sama tetapi memiliki karakteristik dan durasi masing-masing.

Stres Akut

Stres akut adalah tipe stres yang paling umum dialami. APA mendefinisikan stres akut sebagai stres yang berasal dari “tuntutan dan tekanan yang baru terjadi serta antisipasi terhadap tuntutan dan tekanan yang akan terjadi dalam waktu dekat”. Contoh konkrit dari stres akut antara lain bertengkar, terlambat kerja, hampir tertabrak mobil, dan berbicara di depan umum. Stres akut memengaruhi kesehatan mental dengan menyebabkan tekanan emosional jangka pendek, biasanya kombinasi dari kemarahan, iritabilitas, kecemasan, dan depresi. Secara keseluruhan, karena jangka waktunya yang singkat, stres akut tidak menyebabkan kerusakan terhadap kesehatan mental dan fisik yang sama dengan stres jangka panjang. Gangguan yang disebabkan stres akut terhadap kesehatan mental hanya berlangsung dalam waktu relatif singkat dan minor karena gejala dari peristiwa stres berlalu relatif cepat dan di saat yang sama stres tersebut menguap.

Stres Akut Episodik

Stres akut episodik terjadi ketika individu sering menderita stres akut. Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan stres episodik misalnya pekerjaan atau cara hidup yang mengharuskan seseorang terus mengalami peristiwa-peristiwa yang menyebabkan stres akut. Akan tetapi, ada juga dua tipe kepribadian yang rentan terhadap tipe stres ini. Tipe pertama adalah orang yang menjalani cara hidup dengan tingkat stres tinggi, hidup mereka seringkali kelebihan beban. Akibatnya, mereka sering merasa terburu-buru dan tertekan sementara mereka terus menambah tanggung jawab mereka dan berusaha menyeimbangkan beban yang mereka ambil sendiri. Mereka dapat dianggap terburu-buru secara permanen dan selalu telat. Individu-individu ini cenderung kasar dan mudah tersinggung serta bisa marah dan berseteru dengan orang-orang di sekitar mereka, sehingga menyebabkan penurunan hubungan interpersonal.

Bentuk lain dari stres episodik dapat muncul dari individu yang terlalu khawatir cemas. Orang-orang seperti ini sering “memperkirakan bencana” dalam situasi keseharian. Tidak seperti orang yang terlalu sibuk, orang yang terlalu khawatir cenderung menjadi cemas dan tertekan, bukannya marah dan berseteru. Aktivasi yang berkepanjangan dari respon stres mengarah ke rangsangan berlebihan dalam sistem tubuh yang terkait dengan stres, menyebabkan gangguan fisik dan kesehatan.

Stres Kronis

Stres kronis adalah stres parah yang dialami orang hari demi hari, tahun demi tahun, karena kemiskinan, tinggal di daerah berbahaya, menjadi minoritas, tinggal di keluarga yang disfungsional, terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia, atau tersangkut di pekerjaan yang dibenci. Tipe stres ini perlahan-lahan merusak seseorang dan memiliki dampak jangka panjang yang serius terhadap kesehatan fisik dan mental. Stres ini berasal dari ketidakmampuan untuk melihat jalan keluar dari kondisi hidup yang tidak baik, tekanan konstan yang membebani, tanpa akhir dari beban yang mereka bawa. Stres kronis dapat terinternalisasi, artinya seseorang belajar hidup di sekitarnya, perlahan-lahan melupakan bahwa tekanan tersebut masih di sana. Kepribadian dan keyakinan kuat mengenai hidup dapat terbentuk di sekitar stres kronis, sehingga membuatnya semakin terinternalisasi dan membuat stres tipe ini sulit dilalui meskipun faktor penyebabnya sudah tidak ada.

Stres dalam jangka panjang

Stres berkelanjutan seperti stres akut episodik atau stres kronis memiliki dampak yang sangat nyata dan serius terhadap kesehatan mental. Stres berkelanjutan diketahui berhubungan secara langsung dengan penurunan kesehatan mental, meliputi peningkatan pada gejala depresi, depresi mayor, penyalahgunaan zat, dan ketergantungan alkohol.

Stres berkelanjutan diketahui memiliki dampak yang lebih buruk terhadap kesehatan mental dibandingkan kejadian negatif atau trauma. Efek ini dapat meningkat karena pengalaman trauma individu dapat memperburuk situasi sulit yang berikutnya. Stres tidak bisa kita hindari, dan terkadang kita harus melalui masa-masa sulit dalam hidup kita. Karena itu, kemampuan untuk menopang diri sendiri dan kesehatan mental kita melalui masa-masa ini sangat penting.

Meskipun ada kaitan antara stres dan kesehatan mental yang buruk, stres tidak selalu sama dengan penurunan kesehatan mental. Melalui penelitian, ditemukan bahwa terdapat tiga faktor personal yang dapat berfungsi sebagai penangkal stres. Faktor tersebut meliputi, perasaan memiliki kontrol dan penguasaan atas hidup, harga diri yang tinggi serta dukungan sosial. Tiga faktor personal ini sangat membantu kemampuan individu untuk mengatasi stres dalam hidup mereka, yang juga dapat menghilangkan dan mengimbangi dampak negatif psikologis dan reaksi fisiologis tubuh kita terhadap stres. Ketiga faktor tersebut sulit untuk dipelihara, tetapi ketiganya berkontribusi terhadap pembentukan pribadi yang tahan banting secara mental.

Jika kamu menghadapi stres, atau mengetahui bahwa di masa depan kamu akan mengalami banyak stres, menumbuhkan ketiga faktor tersebut dapat membantumu melawan efek negatif stres. Rasa kontrol dan penguasaan terhadap hidup dan kepercayaan diri tinggi adalah sesuatu yang sumbernya internal, sehingga meditasi atau melakukan pencarian jiwa yang mendalam dapat membantumu membangun atribut-atribut tersebut. Tidak ada orang yang sempurna dan untuk membangun atribut-atribut ini butuh waktu dan usaha yang keras jika kamu belum memilikinya.

Bantuan profesional dapat membantu membangun atribut-atribut tersebut, tetapi pada akhirnya semua harus bersumber dari dalam diri. Dukungan sosial juga sangat penting. Meskipun memiliki hubungan dekat adalah bagian besar dari pertempuran, hubungan ini juga harus mendalam dan dibangun di atas kepercayaan emosional. Membuka diri pada orang-orang di sekitar anda tentang emosi-emosi yang kamu rasakan dan hal apa saja yang bisa membuatmu stres akan membantu memperdalam hubungan interpersonal. Mencari cara untuk rileks dan melepas stres juga dapat membantu. Jika kamu bisa mengembangkan hal-hal tersebut, kamu akan menjadi pribadi yang lebih tahan terhadap stres dan efek-efek negatifnya.


Sumber

Kessler, Ronald C. and Jane D. McLeod. 1985. “Social Support and Mental Health in Community Samples.” Pp. 219–40 in Social Support and Health, edited by S. Cohen and L. S. Syme. San Diego, CA: Academic

McEwan B. 2008. Central effects of stress hormones in health and disease: understanding the protective and damaging effects of stress and stress mediators. European Journal of Pharmacology. Volume 583 Issues 2-3

Miller, L. Smith A. 2019 Stress - The different kinds of stress. Sourced: https://www.apa.org/helpcenter/stress-kinds

Pearlin, Leonard I., Morton A. Lieberman, Elizabeth G. Menaghan, and Joseph T. Mullan. 1981. “The Stress Process.” Journal of Health and Social Behavior 22:337–56.

Taylor, Shelley E. and Annette L. Stanton. 2007. “Coping Resources, Coping Processes, and Mental Health.” Annual Review of Clinical Psychology 3:377–401.

Thoits, Peggy.1995. “Stress, Coping, and Social Support Processes: Where Are We? What Next?” Journal of Health and Social Behavior 35:53–79.

Turner, R. Jay. 2003. “The Pursuit of Socially Modifiable Contingencies in Mental Health.” Journal of Health and Social Behavior 44:1–17.

Turner, R. Jay and William R. Avison. 2003. “Status Variations in Stress Exposure: Implications for the Interpretation of Research on Race, Socioeconomic Status, and Gender.” Journal of Health and Social Behavior 44:488–505.

Turner, R. Jay and Donald Lloyd. 1999. “The Stress Process and the Social Distribution of Depression.” Journal of Health and Social Behavior 40:374–404.

Turner, R. Jay, Blair Wheaton, and Donald A. Lloyd. 1995. “The Epidemiology of Social Stress.” Ameri- can Sociological Review 60:104–25.

Turner, R. Jay and Patricia Roszell. 1994. “Psychosocial Resources and the Stress Process.” Pp. 179–210 in Stress and Mental Health: Contemporary Issues and Prospects for the Future, edited by W. R. Avison and I. H. Gotlib. New York: Plenum Press.

Uchino, Bert N. 2004. Social Support and Physical Health: Understanding the Health Consequences of Relationships. New Haven, CT: Yale University Press.

Wheaton Blair 1999. “The Nature of Stressors.” Pp. 176–97 in A Handbook for the Study of Mental Health, edited by A. V. Horwitz and T. L. Scheid. Cambridge, England: Cambridge University Press.