
Belajar
EN

Memahami Kesehatan Mental

Privasi dan Kerahasiaan

Di halaman ini

Sumber

Mengapa kita memerlukan standar privasi dan kerahasiaan?

Ketika menemui tenaga profesional kesehatan mental, ada standar privasi dan kerahasiaan ketat yang diberlakukan. Ini dimaksudkan agar informasi mengenai perawatan dan kondisi individu berada di tangan yang aman, dan bebas dari kemungkinan eksploitasi atau penyalahgunaan. 


Ini berarti bahwa apa pun yang kamu katakan kepada psikolog akan menjadi rahasia antara kamu dan psikolog. 

Namun penting untuk ditekankan bahwa tenaga profesional medis secara hukum berkewajiban untuk mengungkapkan kekhawatiran mereka jika mereka merasa bahwa individu tersebut berisiko melukai diri sendiri atau orang lain.

Di Indonesia, orang secara hukum berhak atas perawatan kesehatan rahasia dari penyedia layanan kesehatan. Undang-undang juga mensyaratkan bahwa informasi yang dikumpulkan dalam sesi dengan tenaga profesional kesehatan harus disimpan dan dipelihara secara rahasia oleh penyedia layanan.

Selain kerangka hukum seputar privasi dan kerahasiaan, Himpunan Psikologi Indonesia, yang biasa disebut HIMPSI, memiliki kerangka kerja profesional yang menguraikan fungsi privasi dan kerahasiaan dalam konteks klinis. Pedoman ini menguraikan praktik dan batasan yang harus dihormati oleh tenaga profesional kesehatan mental saat menangani informasi klien.‍

‍

Pentingnya Persetujuan dengan Pemahaman

Persetujuan dengan Pemahaman (informed consent) didefinisikan sebagai persetujuan lisan atau tertulis yang diperoleh dari individu yang bertemu dengan tenaga profesional kesehatan mental. Ini biasanya menguraikan cara penggunaan informasi yang diberikan atau dikumpulkan, dan memberikan kendali kepada individu untuk menentukan siapa yang boleh tahu tentang kesehatan mentalnya.

Beberapa faktor perlu dipenuhi untuk memastikan tercakupnya persetujuan dengan pemahaman, seperti: 

  1. Kesediaan untuk menjalani perawatan psikologis
  2. Perkiraan durasi perawatan
  3. Apa saja yang termasuk dalam perawatan 
  4. Manfaat dan risiko perawatan
  5. Privasi terjamin selama perawatan
  6. Menentukan pihak yang akan bertanggung jawab seandainya ada hasil yang kurang diinginkan selama perawatan. 


Persetujuan dengan pemahaman harus diberikan dengan sukarela, tanpa konsekuensi, dan sesuai kapasitas.

 Individu di bawah usia 18 tahun tidak dapat secara resmi memberikan persetujuan dengan pemahaman, sehingga diperlukan orang tua atau wali untuk memberikan izin mewakilinya. Selanjutnya adalah tanggung jawab praktisi untuk memastikan bahwa privasi individu tetap terjaga. 

Pentingnya Privasi dan Kerahasiaan dalam Perawatan Kesehatan Mental

Percakapan dalam lingkungan klinis pada dasarnya berisi informasi sensitif. Psikolog dilatih untuk bertindak secara bijaksana dan menghormati privasi dan kerahasiaanmu. Jika kamu memutuskan untuk menemui psikolog, mungkin ada baiknya meminta informasi tentang kebijakan privasi/kerahasiaan mereka. 


Apa yang harus dilakukan jika praktisimu melanggar kode etik privasi/kerahasiaan?

Jika menurutmu kerahasiaan atau privasimu telah dilanggar, berikut adalah beberapa langkah yang dapat kamu ambil:

  1. Tanyakan langsung kepada praktisimu. Jika kamu merasa nyaman, bicarakan dengan orang yang terlibat atau organisasi tempat mereka bekerja. 
  2. Coba cari tahu apa yang terjadi, mengapa dan bagaimana privasimu dilanggar. 
  3. Simpan catatan terperinci tentang apa keluhanmu (misalnya detail dan tanggal) serta setiap percakapan atau korespondensi yang kamu miliki tentang pelanggaran tersebut untuk memformalkan keluhanmu.
  4. Karena privasimu dilindungi oleh hukum, kamu juga dapat melapor ke polisi tentang kemungkinan pelanggaran tersebut.

Mengetahui bahwa apa yang kamu katakan kepada psikolog akan dirahasiakan dapat membantu memfasilitasi lingkungan yang terbuka dan jujur ​​bagimu untuk berbagi pengalaman pribadi. Ini sangat berguna untuk perawatan karena psikolog kemudian dapat memastikan bahwa mereka memberikan perawatan terbaik dan paling efektif bagimu.

‍

Australia Medical Association. (2013). Privacy and confidentiality. Retrieved from https://ama.com.au/privacy-and-confidentiality

‍Himpunan Psikologi Indonesia. (2017). Kode Etik Psikologi Indonesia. Retrieved from https://himpsi.or.id/organisasi/kode-etik-psikologi-indonesia

McGuire, J., Toal, P., Blau, B., & Abeles, Norman. (1985). The Adult Client's Conception of Confidentiality in the Therapeutic Relationship. Professional Psychology: Research and Practice, 16(3), 375-384.

Rubanowitz, D., & Abeles, Norman. (1987). Public Attitudes Toward Psychotherapist-Client Confidentiality. Professional Psychology: Research and Practice, 18(6), 613-618.

Shah, S., & Freedheim, Donald K. (1969). Privileged communications, confidentiality, and privacy: Privileged communications. Professional Psychology, 1(1), 56-69.

The Health Insurance POrtability and Accountability Act of 1996 (HIPAA)


Kembali ke atas
