Budaya Sosial, Body Shaming, Gangguan Makan dan Body Positivity di Indonesia

Indonesia terkenal dengan banyak makanannya yang mendunia. Mulai dari rendang, nasi goreng, sate ayam, dan banyak makanan lainnya. Tidak heran orang Indonesia suka makan. Makanan sudah menjadi bagian dari budaya silaturahmi di Indonesia, sampai-sampai, di mana orang berkumpul, hampir selalu ada saja makanan. Begitu pula dengan acara berkumpul bersama keluarga dan saudara, menyenangkan. Namun kadang suasana dapat berubah menyebalkan. Ada mungkin yang ingat, seorang tante berkata, “Ih kok kamu gendutan”, “Montok banget kamu sekarang” di tengah acara. Terkejut, seketika kamu malu dan tidak nyaman, kamu hanya bisa tersenyum tersipu sopan.

Dengan semakin berkembangnya Indonesia, sosial media masuk ke Indonesia. Sosial media dengan cepat menjadi sangat populer di kalangan remaja sebagai sarana ekspresi diri dan kreativitas. Banyak orang memposting foto diri, kegiatan sehari-hari, dan kegiatan spesial. Harapannya untuk semakin dikenal dan dapat berinteraksi dengan lebih banyak orang. Tapi kemudian… “Pipinya chubby banget deh”, “Tangannya gede banget”, “Liat deh lipatan perutnya”. Pernah mendengar komentar ini? 

Komentar-komentar yang terkesan sepele, tapi berhasil membuat sebagian orang semakin tidak nyaman dengan tubuh mereka. Mungkin juga sebelumnya beberapa orang percaya diri menjadi rendah diri setelah mendengarnya. Hal ini sudah dapat disebut body shaming. 

Berbagai cara kemudian dilakukan oleh orang yang mengalami body shaming agar tetap tampil cantik dan memukau, sesuai dengan standar kecantikan yang semakin tinggi. Sayangnya di zaman ini, dengan beredar bebasnya informasi mengenai metode penurunan berat badan yang tidak diketahui asal-usulnya, justru menjebak banyak orang dalam kondisi kesehatan yang lebih memprihatinkan yaitu gangguan makan.

Apa itu gangguan makan?  

Berdasarkan American Psychiatric Association, gangguan makan merupakan gangguan yang berat baik dalam perilaku makan, maupun pikiran dan emosi akan makanan yang dialami seseorang. Gangguan makan dibagi menjadi dua yaitu anoreksia dan bulimia. Anoreksia utamanya disebabkan oleh distorsi body image seseorang sedangkan bulimia dicirikan dengan kebiasaan pesta makan.

Apa kata penelitian tentang body shaming dan gangguan makan?

Sebuah penelitian menyatakan bodily shame atau rasa malu akan tubuh berkaitan erat dengan kecenderungan gangguan makan. Rasa tidak cukup, tidak efektif, tidak percaya diri dirasakan karena tubuh, kemudian akan menciptakan rasa malu akan tubuhnya sendiri yang berakhir gangguan perilaku makan. Hal ini ditemukan baik pada remaja dengan berat badan normal dan obesitas. Namun, tubuh yang gemuk lebih mudah untuk dipertimbangkan  sebagai sumber rasa ketidakefektifan, sehingga gangguan perilaku makan mempunyai risiko yang lebih besar pada remaja dengan obesitas. Oleh karena itu juga, obesitas masa kecil dianggap suatu faktor risiko yang signifikan.

Body shaming vs body positivity

Walau body shaming dari orang lain bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Ingatlah! Kita selalu bisa positif dan semakin positif terhadap tubuh kita sendiri. Sering disebut dengan body positivity. Body positivity berarti mencintai dirimu tanpa memandang bentuk, ukuran, dan penampilan yang ideal. Body positivity mulai banyak dikampanyekan oleh figur publik Indonesia, salah satunya Tara Basro. Melalui suatu postingannya dalam platform Instagram, Tara menyampaikan “Dari dulu yang selalu gue denger dari orang adalah hal jelek tentang tubuh mereka, akhirnya gue pun terbiasa ngelakuin hal yang sama.. mengkritik dan menjelek2an. Andaikan kita lebih terbiasa untuk melihat hal yang baik dan positif, bersyukur dengan apa yang kita miliki dan make the best out of it daripada fokus dengan apa yang tidak kita miliki. Setelah perjalanan yang panjang gue bisa bilang kalau gue cinta sama tubuh gue dan gue bangga akan itu. Let yourself bloom ” .

Jadi, terima dan cintailah tubuhmu. Lakukanlah perawatan diri yang sehat. Tetap sehat dan cantik!

References
Sumber