Menghadapi stigma: Gue sakit jiwa, terus kenapa?

Meskipun gue selalu menangis sendirian sebelum tidur setiap malam, memuntahkan setiap makanan yang gue telan, memiliki banyak goresan di seluruh tubuh akibat self-harm, serta mempertanyakan alasan untuk terus melanjutkan hidup—gue selalu menutupinya setiap hari di balik topeng kepribadian gue yang ceria dan tingkah laku yang menyebalkan. Lagipula guelah badut keluarga–yang selalu dijadikan sebagai bahan candaan. Gue merasa, gue ngerti kenapa banyak orang tidak mau menanggapi kondisi mental gue dengan serius. Bagaimana gue bisa begitu penuh semangat, namun pada saat yang sama bergulat untuk menerima tampang  diri gue dan memiliki keinginan  untuk terus hidup? Itu sama sekali terdengar tidak masuk akal.

Jadi, pada suatu siang, gue bertingkah konyol di meja makan. Semua yang hadir di situ tertawa dan benar-benar menikmati momen itu, lalu di seberang tempat gue duduk, Mama tertawa dan berceletuk, “Hahaha sakit jiwa dia.”

Gue pun langsung menghentikan tingkah gue, senyum gue berubah menjadi muram. Dalam pikiran gue, gue bilang kepada diri gue sendiri untuk tidak berkata apa-apa, tetapi sebagian diri gue tidak bisa mengerti kenapa beliau berkata hal seperti itu.

“Ma, Mama inget enggak apa yang aku bilang soal memakai kata ‘sakit jiwa’ kayak gitu?  Mama enggak bisa mengatakan itu seenaknya sebagai candaan,” gue berkata dengan halus.

Gue lihat raut muka semua orang yang ada di situ berubah, terutama Mama. Nada beliau menjadi lebih serius dan defensif, “Nah kan bahaya nih anak, mungkin kamu memang sakit jiwa.  Candaan aja enggak bisa diterima. Bahaya nih, nanti kamu enggak bisa bikin temen. Cuman candaan loh, gimana kamu bisa sukses nanti kalau bersosialisasi saja enggak bisa?”

Gue menghela nafas dan diam saja. Semuanya tahu bahwa gue kecewa, termasuk Mama. Gue tidak bisa menatapnya langsung di mata. Gue merasa marah, frustasi, tersinggung, dan amat sangat kecewa.

"Biarkan stigma berhenti sampai di generasi Mama"

Saat Mama bertindak defensif, ketika beliau menjuluki gue ‘sakit jiwa’, beliau hanya menyatakan sebuah fakta namun masalahnya adalah konotasi beliau dalam mengucapkannya.

Karena gue memiliki gangguan mental, gue orang yang bodoh.

Karena gue memiliki gangguan mental, gue akan selalu “kurang”.

Karena gue memiliki gangguan mental, gue tidak bisa bercanda.

Karena gue memiliki gangguan mental, gue tidak akan pernah bisa meraih apa yang gue targetkan dalam hidup.

Ini bukanlah hal yang tidak biasa karena pandangan negatif (stigma) mengenai gangguan mental di Indonesia masih sangat kuat, sehingga orang-orang yang ingin menerima dan mencari pertolongan pun terhambat.

Jika gue mengatakan bahwa mudah bagi gue untuk menerima kalau gue memiliki bulimia, maka gue berbohong. Nyatanya, perlu bertahun-tahun buat gue untuk mengatasi perasaan bersalah karena gue mengalami gangguan mental. Selama itu gue menyangkal diri gue sendiri sehingga gue harus masuk ke dalam ruang darurat terlebih dahulu untuk sadar, bahwa gue memang membutuhkan pertolongan. Gue bersyukur memiliki kelompok teman-teman yang menyemangati dan mendukung dengan keadaan mental gue namun gue tahu bahwa tidak semua orang merasakan hal yang sama, banyak yang menghadapi para bully seperti Mama.

Gue tahu dan gue mendengar kalian, kalau dalam dunia yang sempurna, akan sangat baik untuk memiliki orang-orang yang seharusnya menjadi tempat bersandar kalian–seperti seorang ibu, namun dunia tidaklah sempurna dan meskipun banyak orang, gue, dokter terutama saudara-saudara gue selalu memberi edukasi kepada Mama mengenai kesehatan mental, beliau tetap saja menanggapinya dengan ringan.

Mungkin sulit untuk mengajarkan kesehatan mental terhadap generasi lama, tetapi yang bisa kamu lakukan adalah memastikan generasi berikutnya cukup teredukasi untuk tidak mempercandakan kondisi mental sehingga dapat menciptakan lingkungan yang lebih suportif. Biarkan stigma berhenti sampai di generasi Mama.


Pelajari kesehatan mental lebih lanjut di Seribu Tujuan

References
Sumber