Trigger Warning
Artikel ini akan membahas topik-topik seperti depresi, bunuh diri dan substance abuse. Jika anda berada dalam bahaya langsung, hubungi 119. (Saluran Darurat Indonesia)
Baca posting ini dalam Bahasa Indonesia
Read this post in English

Mengenal depresi: apakah merasa sedih setiap hari itu normal?

Saya cukup terkejut, saat saya baru menemukan bahwa saya depresi. Selama ini saya menjalani kehidupan sehari-hari tanpa benar-benar menyadari kondisi kesehatan mental saya sendiri. Seakan-akan seperti berjalan sambil menunduk menatap kaki. Sudah lama saya hanya fokus menghadapi kehidupan hari demi hari, meletakkan satu kaki di depan yang lain hanya untuk tetap bergerak. Ketika akhirnya saya melihat ke atas dan menyadari jarak yang sudah saya tempuh dan betapa tersesatnya saya, rasanya cukup terkejut. Sampai hari ini, saya masih ingat percakapan dengan teman saya waktu saya sadar bahwa saya depresi. Salah satu teman saya mengatakan bahwa saya mungkin depresi, dan pikiran saya tiba-tiba terbuka. Banyak hal yang tiba-tiba terasa masuk akal dan saya menyadari betapa lamanya saya tidak merasa bahagia. Menyadari bahwa saya depresi adalah hal yang menguatkan dan menakutkan. Untuk sekian lama saya hidup hanya sebatas jadi dan minimal. Saya berasumsi saya hanya seorang pemurung dan itu hanyalah sesuatu yang normal bagi saya.

Realisasi mengenai depresi

Menyadari bahwa merasa murung setiap hari bukanlah sesuatu yang normal dan bahwa saya depresi adalah hal yang menguatkan dan menakutkan. Menguatkan karena saya bisa mengubah hidup saya dan menikmati hidup lagi. Menakutkan karena saya tahu perubahan tersebut akan tidak mudah dan membutuhkan usaha yang konsisten dan penuh pertimbangan. Menyadari hal ini justru membuat saya marah akan betapa sulitnya menjadi bahagia lagi. Menjalani kehidupan sehari-hari saja sudah membutuhkan usaha keras bagi saya. Menyadari bahwa saya harus menghadapi perubahan dan pemikiran yang menyulitkan hanya untuk merasa normal lagi sangat mengganggu saya. Hidup saja sudah cukup susah, bahkan tanpa berusaha menjadi bahagia. Bagi saya, perasaan ini menggarisbawahi depresi yang saya rasakan. Perasaan-perasaan yang dominan bagi saya adalah ketidakpedulian, lelah, lesu, ditambah dengan kecil hati, sedih, murung, berat hati, dan rasa hancur. Apapun yang saya lakukan seakan akan mendaki gunung yang tidak bisa dinaiki. Membuang sampah keluar terasa memakan waktu sangat lama, bertemu teman terasa seperti mengerjakan tugas, memasak menjadi sebuah pertarungan. Saat saya menyadari banyaknya perubahan yang harus saya lakukan supaya tidak depresi, rasanya seperti melakukan hal yang mustahil yang akan membutuhkan upaya yang lebih dari kemampuan saya. Sekarang, setelah saya melihat dari sisi yang lain, saya tahu bahwa mengatasi depresi saya bukanlah sesuatu yang mustahil dan tak ada ujungnya. Meski demikian, saat itu, saya hampir tidak bisa membayangkan masa depan tanpa perlu berjuang keras untuk merasa bahagia.

Hal ini menunjukkan aspek lain dari pengalaman depresi saya. Tanpa sadar saya memandang segala sesuatu dengan negatif, baik tentang dunia sekitar maupun diri sendiri. Saya hanya fokus dengan hal-hal negatif yang saya temukan. Ketika memikirkan diri sendiri, saya akan menghakimi diri saya sendiri sambil melebih-lebihkan segala kekurangan saya dan mengarang kritikan keras untuk diri saya sendiri. Saya merasa saya orang yang menyebalkan yang tidak bisa melakukan apapun. Sebaik apapun saya diperlakukan orang, kebaikan itu tidak pernah cukup. Saat saya bermain gitar, saya akan menyalahkan diri sendiri karena ketidakpandaian saya. Hal ini membuat saya enggan mencoba hal-hal baru dan berprestasi. Saya kira saya tidak akan pernah cukup lihai untuk melakukan apapun dan bahkan setiap kali saya mencoba sesuatu dan gagal saya malah menemukan alasan baru untuk merasa tidak enak. Saya menjadi musuh terbesar saya sendiri. Saya terus memikirkan hal-hal negatif buruk tentang diri saya sendiri. Selama itu saya merasa saya hanya berpikiran realistis, bahwa saya adalah orang yang rusak dan orang-orang sekitar saya jauh lebih baik dari saya. Seiring waktu, saya menyadari bahwa hal tersebut tidak benar. Saya hanya fokus sekuat-kuatnya dengan aspek-aspek negatif diri saya sendiri dan terlalu membesar-besarkan aspek-aspek tersebut. Akhirnya saya menyadari bahwa standar yang saya pegang sangat tidak manusiawi, bahwa saya bisa mengampuni orang lain, tetapi tidak bisa mengulurkan kemurahan hati tersebut kepada diri saya sendiri.

Perjalananku—perjuangan dengan 'coping mechanism'

Saya mendapati diri saya mengonsumsi ganja. Hal ini saya lakukan untuk merasa “normal” karena saat sedang mabuk saya menjadi mati rasa dan punya alasan untuk bersantai di sofa tanpa melakukan apapun. Akan tetapi, dampaknya juga besar dalam memperparah kondisi kesehatan mental dan memperpanjang depresi saya. Mabuk ganja terus-menerus mencegah saya melakukan kegiatan sehari-hari, bertemu teman, melakukan hobi-hobi yang saya senangi, dan memperbaiki diri saya. Hal ini membuat saya merasa semakin tidak berguna dan tidak berarti, dan semakin membuat pikiran ini nyata. Saya merasa tidak berguna dan tidak berarti karena saya tidak melakukan hal apapun yang berguna atau berarti. Untuk menghindari pemikiran ini, saya beralih ke ganja agar saya tidak merasa tidak enak selama beberapa waktu. Saya ada di ruangan mental yang sangat buruk, sampai saya pun tidak bisa menjaga diri saya sendiri. Mabuk dan rasa sakit sesudahnya memakan semua energi saya. Pada akhirnya, saya sampai pada sebuah titik ketika saya dapat makan sangat banyak ataupun sangat sedikit. Seringkali, saat saya akhirnya makan di sore hari, saya akan merasa sangat tidak enak dan tidak bisa makan lebih dari beberapa suap.

Pada masa-masa itu saya mulai memikirkan bunuh diri. Saya masih tidak bisa menyatakan dengan jelas keinginan bunuh diri saya. Setiap hari saya akan terpikir untuk bunuh diri, tetapi tidak pernah benar-benar ingin bunuh diri. Meskipun saya depresi, saya masih ingin hidup dan menganggap kematian sebagai alternatif yang sangat menakutkan. Secara logis, saya tahu hidup saya akan lebih baik dan bunuh diri bukanlah jawaban. Rasanya seperti ada pedagang yang mempromosikan kematian di dalam kepala saya, dengan sangat putus asa mencoba menjual keyakinannya. Meskipun saya menolak semua usahanya untuk membuat saya membeli dagangannya yang buruk itu, ia terus menerus mencoba lagi. Saat saya lapar dan butuh memasak makanan, pedagang itu akan datang. “Nah, Brian, saya punya cara untuk menghindari keadaan ini. Anda cukup tanda tangan di sini dan akhiri semuanya,” katanya. Saat saya mengucapkan sesuatu yang memalukan di depan seorang wanita, ia akan muncul dari balik semak-semak. “Brian, saya bisa memberikan satu kesempatan unik untuk anda yang dapat mengakhiri semua rasa malu anda. Cukup bunuh diri anda sendiri dan semua masalahmu akan sirna, segampang itu,” katanya. Mengatakan “tidak” pada pedagang ini bukanlah hal yang sulit, tetapi yang menakutkan adalah betapa seringnya saya harus melakukan itu.

Mencapai titik balik saya

Titik terburuk ini adalah sebuah batu loncatan bagi saya. Pada masa-masa terburuk ini saya banyak memikirkan hidup saya, posisinya saat itu dan hal-hal yang saya inginkan dari situ. Saya sadar saya tidak senang dengan keadaan saya dan saya ingin mengubahnya lebih dari hal-hal lain yang pernah saya inginkan.

Inilah yang memulai perjalanan saya menuju pemulihan. Salah satu hal terbesar yang saya sadari adalah bahwa kesehatan mental saya adalah sesuatu yang butuh saya bentuk dan kendalikan. Saat saya tidak menjaga diri dengan baik, kesehatan mental saya yang pertama terkena dampaknya. Saya belajar bahwa kebahagiaan saya adalah sesuatu yang harus saya syukuri, dan butuh saya kembangkan dan jaga secara keseluruhan dalam semua aspek hidup saya. Tubuh kita adalah sistem yang sangat kompleks dan kita semua adalah makhluk emosional yang rumit. Meski terdengar sederhana, menjadi seseorang yang lengkap, seimbang, dan menemukan kepuasan dan kenikmatan dalam hidupnya adalah sesuatu yang, anehnya, cukup sulit.

Nama-nama telah diubah untuk melindungi privasi individu.

Pelajari lebih lanjut tentang depresi di Seribu Tujuan

References
Sumber