Pemilu, Politik, dan Kesehatan Mental

Pemilu dan stres: Apakah pemilu benar-benar berpengaruh pada kesehatan mental?

Kehadiran internet dan media sosial berdampak pada meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap dunia politik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Menjelang pemilu serentak pada bulan April nanti, paparan dari berita televisi dan koran, kampanye politik, debat dan acara politik terus meningkat.  Kehadiran informasi seputar pemilu menjadi hal yang lazim mengisi keseharian kita melalui platform yang sering kita gunakan, yaitu layanan pesan instan seperti Whatsapp dan media sosial seperti Twitter dan Instagram.

Apa yang ditemukan studi?

Roche dan Jacobson melakukan penelitian pada mahasiswa di musim pemilu Amerika Serikat tahun 2016 lalu. Hasil penelitian menunjukkan pada masa sebelum dan sesudah pemilu terjadi kenaikan yang signifikan terhadap emosi negatif . Masa pemilu juga menyebabkan tingkat stres yang meningkat secara signifikan, bersamaan dengan masalah kualitas tidur yang buruk. Emosi yang dirasakan pada saat-saat yang menegangkan ini juga dipercaya meningkatkan kejadian kecemasan, walaupun sebagian besar hanya terjadi dalam jangka waktu yang pendek. Perlu diketahui bahwa Roche dan Jacobson pun menemukan bahwa emosi dan reaksi seperti rasa takut dan marginalisasi yang muncul sebagai bagian dari kampanye politik juga berpengaruh secara signifikan dan tak mereda dengan cepat karena ketidakpastian yang akan terjadi kedepannya.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh DeJonckheere et al (2018) menarik kesimpulan umum bahwa respons emosional yang disebabkan oleh peristiwa politik yang bermuara pada pemilu dapat memacu tingkat stres dan kecemasan hingga dapat mempengaruhi performa seseorang dalam menjalani rutinitasnya. Siapapun yang tidak merasa ada perubahan pada kesehatan fisik maupun mentalnya biasanya berpikir bahwa efek dari pemilu belum mempengaruhi mereka dan tidak terlalu peduli pada politik.

Penelitian lain yang dilakukan oleh San Fransisco State University juga menemukan bahwa hasil pemilu tahun 2016 mempengaruhi generasi muda secara signifikan. Bahkan beberapa diantaranya sampai menunjukkan gejala yang mirip dengan seseorang yang memiliki Post Traumatic Stres Disorder (PTSD- Gangguan stres pasca trauma).

Sebuah perspektif yang berbeda: Bagaimana kondisi kesehatanmu dapat mempengaruhi partisipasimu

Diluar dari analisis bagaimana prospek pemilu dan hasilnya dapat mempengaruhi kesehatan mental seseorang, ada pula penelitian yang melihat dari sisi lain, bagaimana kesehatan mental seseorang dapat mempengaruhi partisipasi mereka dalam pemilu?

Sebuah penelitian dari Couture dan Breux pada tahun 2017, melihat pemilu Kanada, baik tingkat regional maupun nasional, ditemukan bahwa kesehatan mental seseorang dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kemungkinan mereka untuk berpartisipasi dalam pemilu. Dari data yang telah dikumpulkan dalam penelitian, mereka dengan kesehatan mental yang relatif buruk memiliki kemungkinan kecil untuk ikut berpartisipasi dalam pemilu. Efek jangka panjang ini ditekankan kepada seseorang yang biasanya tidak terlibat atau berkecimpung di dunia politik, yang akhirnya memiliki kecenderungan untuk menarik diri dari hal-hal berbau politik.

Melalui penelitian ini, dapat dilihat bahwa musim pemilu dan politik secara umum dapat mempengaruhi kesehatan mental apabila kita tidak dapat menjaga diri sendiri selama waktu yang menegangkan ini. Dengan terhubungnya kehidupan kita dengan internet beberapa dekade terakhir ini, penting untuk mengetahui kapan kita harus menarik diri dari keributan dan memastikan bahwa kita memiliki pola pikir yang optimal untuk memilih dan menghadapi hasil pemilu juga.

Pelajari depresi dan ansietas lebih lanjut di Seribu Tujuan

References
Sumber