Trigger Warning
Artikel ini mengandung informasi mengenai bunuh diri yang mungkin mengganggu bagi beberapa orang.
Baca posting ini dalam Bahasa Indonesia
Read this post in English

Pola bunuh diri lintas gender, lokasi dan pekerjaan

Satu orang di dunia bunuh diri tiap 40 detik.
Lebih dari 800.000 kematian tiap tahun disebabkan oleh bunuh diri.
Di tahun 2020, diprediksikan satu kematian setiap 20 detik disebabkan oleh bunuh diri (Cornain, 2018)

Dengan naiknya angka bunuh diri dalam beberapa tahun terakhir, penting bagi kita, sebagai populasi dan komunitas, meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai masalah ini. Bunuh diri, merenggut nyawa sendiri, bisa menjadi hasil yang tidak menguntungkan dari masalah pribadi yang kompleks, dan pada banyak kasus, penyakit mental yang belum ditangani atau dirawat secara memadai. Untungnya, meskipun demikian, adalah kita, teman-teman dan keluarga dari seseorang yang berfikir atau bermaksud untuk bunuh diri, bisa bertindak sebagai penghalang. Melalui kemauan kita untuk mendengarkan dengan sabar dan tidak menghakimi, kita bisa menunjukan pada seseorang yang mungkin sedang berjuang secara emosional bahwa mereka tidak sendiri dan mereka memiliki orang-orang yang sangat peduli pada mereka. Langkah selanjutnya adalah pertolongan professional, baik itu dalam bentuk dokter umum, konselor, psikolog atau psikiater.


“Di Indonesia, bunuh diri dikenal sebagai pembunuh rahasia.”

Orang-orang mencoba untuk tidak membicarakannya, untuk menyanggahnya, menolak mencari atau meminta pertolongan sampai terlambat. Ada stigma melingkupi penyakit mental dan bunuh diri yang belum terpatahkan di banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Angka rata-rata kematian di Indonesia karena bunuh diri adalah 24 per 100.000 dari populasi.
Kematian karena bunuh diri meningkat secara stabil di Indonesia.
Pada tahun 2006, sekitar 100.000 orang di Jakarta meninggal karena bunuh diri. (Wirasto, 2012)
Apakah angka kematian bunuh diri berubah berdasarkan gender?

Pada tahun 2016 di Indonesia, 5.2 dari 100.000 laki-laki dan 2.2. dari 100.000 perempuan meninggal karena bunuh diri. Sementara banyak factor dapat dihitung untuk perbedaan yang berbeda, sebagian besar termasuk kerentanan spesifik gender dalam hal psikologi dan biologi. Ada pola global untuk ini, angka kematian di sebagian besar negara meninggi pada wanita dibanding pria (China menjadi pengecualian) (Vijayakumar, 2015).


Kesulitan finansial sebagai faktor resiko untuk bunuh diri

Bunuh diri adalah nasib malang dari akumulasi kompleks berbagai factor yang dialami oleh seseorang, ditemani oleh perasaan tidak berdaya yang luar biasa. Permasalahan ekonomi dapat mengekpos seorang individu, terutama mereka yang memiliki tanggung jawab finansial tunggal untuk keluarga mereka., untuk stress yang tidak semestinya dan kelelahan emosional. Hasilnya, masyarakat kelas menengah ke bawah berada dalam resiko tinggi bunuh diri dibanding masyarakat Indonesia kelas atas.

Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta) memiliki tingkat bunuh diri remaja tertinggi di Indonesia

Di Gunung Kidul, ada fenomena kultural yang disebut “pulung gantung”, sebuah takhayul yang dipegang oleh penduduk sekitar bahwa seseorang mati bunuh diri karena dikunjungi oleh cahaya misterius pada malam sebelumnya, atau diberi pertanda. Sedangkan kenyataannya, tingkat kerentanan bunuh diri di kabupaten ini dapat dikaitkan dengan peningkatan prevalensi penyakit mental, terutama pada populasi orang tua, factor kultural mempengaruhi penduduk untuk percaya bahwa bunuh diri terjadi karena hal supernatural, dan oleh karena itu tidak terhindarkan. Mereka yang mengalami gangguan mental tidak dianjurkan mencari bantuan, dan itu menempatkan mereka pada kerentanan yang tinggi untuk berkontribusi pada statistik ini.

Provinsi lain di Indonesia yang memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi adalah Bali. Mereka yang meninggal karena bunuh diri di area ini, 33.9% juga mengalami gangguan mental yang serius yang menempatkan mereka di bawah severe tekanan emosional dan trauma (Wirasto, 2012).

Sementara upaya terbaru di Indonesia untuk mengurangi angka bunuh diri adalah penyelenggaraan panggilan pertolongan. psikolog juga dididik tentang peran mereka dalam pencegahan bunuh diri, terutama melalui deteksi dini, menejemen dan program sekolah yang meningkatkan kesadaran mengenai bunuh diri di kalangan remaja.

‘Jumlah psikiater di negara ini hanya 820. Tentu saja ini tidak cukup…  psikiater-psikiater ini hanya tersedia di kota-kota besar’
- Danardi Sosrosumihardjo, ketua Asosiasi Psikiater Indonesia (PDSKJI)

Banyak yang bisa dilakukan untuk menangani seseorang begitu merka ditemukan beresiko bunuh diri, namun aspek pencegahan saat ini seringkali diabaikan. Stigma di sekitar penyakit mental itu fatal. ini mencegah orang untuk mencari dukungan dan pertolongan, yang berpotensi menjadi titil paling krusial di hidup mereka, menambah rasa takut dan ketidakpastian saat mereka berjuang. Masalah ini akhirnya menjadi inti, tidak hanya pada masyarakat Indonesia, tapi populasi kita di seluruh dunia: kita perlu menghapus stigma sekitar gangguan mental. Hanya dengan begitu penyembuhan bisa terjadi.


Pelajari pencegahan bunuh diri lebih lanjut di Seribu Tujuan

References
Sumber