Peran Orang Tua dan Guru terhadap Kesehatan Mental Remaja

Peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, menimbulkan krisis yang harus dihadapi oleh remaja. Namun, pada kenyataannya tidak semua bisa mengatasi masalahnya dengan baik. Mereka butuh bantuan dari orang-orang sekitarnya, namun tak semua yang mau berterus terang bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus lebih peka untuk mewaspadai beberapa hal berikut terjadi pada remaja.

  1. Perubahan kebiasaan pola tidur 
  2. Kehilangan minat berkegiatan 
  3. Menurunnya performa belajar, konsentrasi, dan demotivasi
  4. Nafsu makan kurang atau bertambah
  5. Kemurungan yang ekstrem 
  6. Meningkatnya isolasi/menarik diri 
  7. Suicide idea atau pemikiran untuk bunuh diri  

Jika orang tua dan guru tidak berhasil mengatasi masalah ini, maka bisa berdampak lebih serius pada kesehatan mental anak hingga membutuhkan bantuan professional. Adanya keterlibatan orang tua dan guru dalam hidup anak, dapat membantu mereka belajar menghadapi stressor dan mengatur kesehatan fisik dan mentalnya.

Peran Orang Tua  

  1. Membantu anak remaja melewati pasang surut kehidupannya, bukan melindungi mereka dari setiap kegagalan yang mungkin terjadi
    Sebagai manusia, kita tidak bisa menang setiap saat sama seperti anak remaja. Setiap manusia memiliki jatah gagalnya masing-masing dan hal ini penting bagi perkembangan remaja, karena remaja akan belajar bagaimana caranya untuk mengatasi kekecewaan, bangkit kembali, dan menemukan kekuatan untuk mencoba lagi. Mulai dari remaja, anak perlu memahami adanya keseimbangan antara pengalaman positif dan juga menantang, sehingga hal ini dapat membantunya berkembang menjadi orang dewasa dengan percaya diri dan cakap. 
  1. Membantu anak remaja mencari dan berada dalam lingkungan sehat
    Orang tua juga perlu menaruh perhatian besar pada lingkungan remaja. Karena lingkungan yang sehat dapat membantu perkembangan otak yang sehat juga. Lingkungan yang sehat ini mencakup cukup tidur, makan sehat, berolahraga, memiliki hubungan sosial dan keluarga yang positif, serta berhasil mengatasi tantangan hidup. 
  1. Orang tua adalah cermin yang digunakan anak untuk melihat dirinya sendiri
    Banyak teori identitas yang mengklaim bahwa kita mulai memahami diri sendiri dengan memahami bagaimana orang lain melihat kita. Orang tua berperan penting dalam membangun identitas anaknya, karena jika anak terus-menerus dibuat merasa mampu oleh keluarganya, maka mereka cenderung percaya bahwa mereka mampu, begitu juga sebaliknya. Sehingga sebagai orang tua jangan pernah meremehkan interaksi yang dilakukan dengan anak, karena hal ini dapat memengaruhi perasaan anak. 

Peran Guru 

  1. Menampilkan contoh perilaku yang tepat
    Hubungan yang dibangun antara guru dan siswa akan membentuk perilaku siswa. Guru bertanggung jawab untuk memberikan contoh perilaku yang tepat untuk dipelajari oleh siswanya. Menurut Bandura, 70% dari semua perilaku yang dipelajari diperoleh melalui pemodelan. Ketika pemodelan dilakukan melalui hubungan yang tepat dan dalam konteks sosial yang tepat, replikasi perilaku dari siswa bisa diharapkan. Pemodelan ini bisa dilakukan dengan sangat sederhana melalui perilaku sehari-hari, misalnya saling menghargai, tolong menolong, ataupun cara guru menghadapi konflik, dan lain sebagainya. Pada intinya, siswa dapat mengembangkan perilaku yang sehat dalam berbagai situasi. 
  1. Menyediakan ruang untuk ekspresi emosional
    Sebagai seorang pendidik, guru perlu mengetahui masa-masa krisis yang bisa saja terjadi pada siswanya, seperti suasana hati yang tertekan, stress, kecemasan, pikiran untuk bunuh diri, serangan panik, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi penting, karena guru adalah salah satu orang yang bisa dipercaya oleh siswa untuk berbagi. Maka, guru perlu untuk memberi ruang bagi siswa dalam merasakan apa yang sedang dialaminya. Tidak ada keharusan bagi guru untuk selalu memiliki jawaban, namun guru cukup mendukung dan menjadi pendengar yang aktif bagi siswanya. Selain itu, menyediakan ruang yang aman dan menumbuhkan rasa percaya juga menjadi hal yang penting. Karena ketika anak merasa tidak dipercayai, bisa saja mereka akan mengisolasi dirinya lebih jauh dan berakibat fatal pada kesehatan mental anak nantinya. 
  1. Membantu siswa dalam memahami perasaannya
    Ketika siswa berada pada tahap mengatasi perasaannya, maka ini menjadi kesempatan yang bagus bagi guru untuk mendorongnya dalam memahami masalah yang sedang dihadapi. Tidak semua siswa mau dan mampu membicarakan tentang perasaannya, jadi dorong mereka untuk melakukannya. Dengan belajar membuka diri dan menjelaskan bagaimana perasaan mereka juga bisa menjadi latihan yang bagus untuk masa depannya nanti. 

Apa yang Harus Kita Lakukan Ketika Remaja Merasa Cemas? 

Pada saat remaja, anak mungkin saja bahkan sangat mungkin untuk merasa cemas terutama pada suatu hal yang baru bagi mereka. Sebagai guru dan orang tua, hal pertama yang perlu dilakukan ketika mereka cemas adalah memastikan anak merasa dicintai, aman, dan dipercaya. Tunjukkan pada anak bahwa Anda berusaha mencoba memahami perasaan mereka. Ajaklah mereka berbicara tentang apa yang sedang mereka cemaskan. Bantu secara perlahan, hingga mereka mau mengakui pikiran negatifnya. Setelah mereka mengakui pikiran itu, maka berilah pemahaman bahwa memiliki pemikiran seperti itu adalah suatu hal yang wajar. Tidak ada salahnya untuk berbicara layaknya teman dengan anak menggunakan kata “saya/aku” atau dengan sebutan lain yang dapat memberi kenyamanan bagi anak saat mereka bercerita. 

Bagaimana Kita Dapat Membantu dan Mendukung Perkembangan Kesehatan Mental Remaja? 

Sebagai Orang Tua 
  1. Mengaplikasikan authorative/democratic parenting style
    Authorative/democratic parenting
    style dimana orang tua memberikan kehangatan dan keterlibatan yang cukup, tetapi juga bersikap tegas dan konsisten dalam menetapkan dan menegakkan aturan, batasan, dan harapan yang sesuai dengan perkembangan remaja. Menurut Steinberg, hal ini berkaitan dengan memiliki hasil perkembangan mental anak yang positif, seperti kemandirian, motivasi berprestasi, perilaku pro-sosial, pengendalian diri, keceriaan, dan kepercayaan secara sosial.
  1. Keterlibatan orang tua dalam akademis anak serta perkembangan emosinya
    Keterlibatan di rumah
    : menetapkan batasan waktu mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dan waktu luang, dan memonitor progres anak dalam tugas sekolah.
    Keterlibatan di sekolah : komunikasi antara guru dan orang tua dan kehadiran di acara sekolah.
    Sosialisasi akademis : mengomunikasikan ekspekstasi akademis, pentingnya pendidikan, dan membuat rencana serta persiapan dengan anak yang mendukung tujuan masa depan mereka.

    Hal ini dapat meningkatkan keberhasilan akademis anak serta kesehatan mental baik secara langsung maupun tidak langsung melalui keterlibatan perilaku dan emosional.
  1. Emotion coaching
    Menurut Hooven, Emotion coaching adalah ketika orang tua terlibat dalam mengajarkan anak mengenali, menyadari, dan mengelola emosi mereka sendiri untuk meminimalisir dampak negatif. Bukan sebaliknya, dimana anak harus memendam atau mengabaikan perasaan mereka, atau bahkan memarahi mereka karena telah mengekspresikan perasaan mereka, atau disebut juga sebagai emotion dismissing.
    Anak yang diajarkan untuk memahami emosi negatif yang mereka rasakan daripada mengabaikan atau memendam, dapat meminimalisir dampak negatif melalui kesadaran akan diri mereka sendiri dan dapat kemampuan menangani hal tersebut.

Sebagai Guru

Keterlibatan guru juga penting dalam perkembangan kesehatan mental remaja, terutama di sekolah. Guru bisa menciptakan iklim belajar yang positif di sekolah, seperti:

  1. Bekomunikasi dengan jelas dan fleksibel
    Tak jarang kecemasan yang terjadi pada remaja bersumber dari tuntutan sekolah yang tidak dapat mereka penuhi. Oleh karenanya, guru perlu untuk menerapkan iklim kelas yang positif dengan memberikan harapan yang jelas bagi perilaku siswa. Hal ini bisa dimulai dengan pengaturan jadwal yang konsisten yang dikomunikasikan kepada siswa, fleksibilitas dalam tenggat waktu, dan dukungan akademik lainnya.
  2. Memberi instruksi yang relevan dan memulai interaksi teman sebaya yang positif
    Dalam mendukung keberhasilan siswa membangun hubungan yang positif, guru dapat memberikan instruksi secara personal sesuai dengan minat dan bakat siswa, sehingga mereka dapat lebih mengekspresikan dirinya. Selain itu, pemberian proyek kelas yang dilakukan bersama secara berpasangan atau berkelompok juga dapat membantu siswa merasa terhubung dan menjadi bagian dari komunitas kelas.
  3. Menunjukkan rasa hormat
    Menunjukkan rasa hormat dapat dilakukan dengan cara saling menghargai. Guru yang afektif (responsif terhadap masalah siswa), menghargai perspektif siswa, menghormati kontribusi siswa dalam pemecahan masalah, dan menunjukkan rasa hormat selama berinteraksi dengan siswa bisa menjadi factor pendukung terciptanya iklim kelas yang positif.

References
Sumber