Dibesarkan di Indonesia: Pentingnya merasakan kesedihanmu

Aku dibesarkan dengan dilarang untuk menangis, sedih, stres, atau takut atau merasakan perasaan negatif lainnya. Mungkin banyak dari kalian yang bisa mengerti rasanya dibesarkan dengan pola asuh dan cara pandang seperti ini.

Kalau kalian bertanya bagaimana aku bisa menahan rasa emosional yang sebenarnya manusiawi itu, sebenarnya aku tidak bisa. Sebenarnya aku punya segunung emosi yang berdampak negatif pada hubungan interpersonal dan membentuk kepribadianku menjadi buruk -- salah satu hal yang sudah kukerjakan setahun ini untuk kuperbaiki. Menekan emosi negatif juga membuatku lebih memilih untuk tidak merasakan rasa sakit dan melupakan kejadian traumatis, meninggalkan luka emosional dan juga membuatku merasa amat kesepian.

Di episode Inframe kemarin, Anna dan Jen menganalisa film 'Inside Out'. Salah satu film dari Pixar yang dengan kreatif menggambarkan sisi neuropsikologis dibalik emosi manusia dan hubungan interpersonal. Di film ini, diceritakan bahwa bagaimana gadis berumur 11 tahun mengatur emosinya ketika ia pindah dari Minnesota ke San Fransisco. -- Aku merasa bahwa pesan dari film ini adalah it's ok not to be ok, tidak apa-apa kalau kamu tidak baik-baik saja; menahan kesedihanmu di dalam hanya akan membawa lebih banyak keburukan dibandingkan kebaikan. Film ini juga membicarakan bagaimana emosi mempengaruhi bagaimana kita melihat dunia dan ingatan yang kita miliki; juga bagaimana ingatan mempengaruhi kepribadian kita.

Cara aku dibesarkan memang berbeda dengan Riley; aku akan dihukum jika aku menangis, aku dibesarkan untuk tidak bereaksi ketika terkejut, dan aku dimarahi ketika aku menyebut kata 'stres' sedikit saja. Aku juga diberi tahu bahwa ketika di gereja aku harus bahagia, untuk melihat sisi positif dari semuanya, dan apabila aku merasakan emosi negatif, aku hanya tidak bersyukur.

Memiliki orang tua yang suka melakukan kekerasan fisik dan emosional.

Aku baik-baik saja.

Dipanggil 'idiot' di depan seluruh orang yang datang ke gereja.

Aku baik-baik saja.

Pacar yang sudah lama berpacaran denganmu selingkuh dengan teman baikmu.

Aku baik-baik saja.

Diserang secara seksual.

Aku baik-baik saja.

Didiagnosa menderita kanker.

Aku baik-baik saja.

Melihat seseorang meninggal secara langsung.

Aku baik-baik saja.

Aku baik-baik saja.

Aku baik-baik saja.

Aku tidak pernah tahu seberapa marah dan sedih diriku sampai semua itu menjadi menumpuk, dan setelah 21 tahun, aku merasakan amat sangat lelah secara emosional -- berbaring di lantai dingin, menangis, dan marah pada dunia.

Kemudian aku menyadari bahwa menahan emosi selama ini hanya membuatku tidak bisa mengatur emosiku secara sehat. Aku mencari terapi dan belajar sungguh-sungguh untuk lebih merangkul emosiku, termasuk emosi negatif. Aku membaca buku-buku self-help dan membuat jurnal refleksi.

Aku mengatasi trauma masa lalu dan membiarkan diriku merasakan rasa sakit dan sedih. Aku menyadari bahwa untuk melewati ini, aku harus mengakui semua perasaan ini terlebih dahulu. Aku perlu mengerti bahwa normal untuk merasa seperti ini dan itu semua tidak membuatku lemah atau rendah, dan tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.

Setelah mengakui semua perasaan ini, aku menyadari bahwa aku bisa berdamai dengan mereka. Aku bisa melakukannya lewat cognitive behaviour therapy (terapi perilaku kognitif), aku belajar mekanisme bertahan (coping mechanism) baru, dan dalam beberapa bulan rasanya beban berat dalam diriku telah terangkat. Aku bisa memaafkan mereka yang sudah melukaiku dan aku juga bisa memaafkan diriku sendiri. Teman-temanku juga mengatakan bahwa ada perubahan dalam kepribadianku dan caraku melihat dunia serta diri sendiri.

Setelah perawatan bertahun-tahun, aku masih mencari keseimbangan hidup yang sehat, tapi lewat ini, aku sadar bahwa penting untuk mengetahui emosi-emosi kita, untuk mengerti mereka dan membiarkan diri kita merasakannya. Karena itu semua yang membuat kita menjadi manusia kan?

References
Sumber