Vape - Alternatif nikotin yang lebih baik?

Vape atau e-ciggarettes, siapa yang belum kenal dengan barang tersebut? Barang pengganti rokok ini sudah umum digunakan oleh berbagai kalangan dan lingkungan, bahkan di lingkungan akademis sekali pun. Kebanyakan orang yang beralih dari rokok tradisional ke vape mengganggap vape memiliki lebih sedikit risiko dibandingkan rokok tradisional. Selain itu, vape dianggap tidak banyak merugikan orang lain di sekitar pengguna sebab asap buangan dari vape memiliki harum tertentu.


Namun, benarkah vape memiliki risiko yang lebih rendah bagi pengguna dan lingkungan sekitar?

Vape atau e-ciggarettes merupakan alat yang digunakan untuk memanaskan cairan menjadi aerosol (U.S. Surgeon General’s, 2016). Cairan yang dipanaskan dengan vape mengandung kandungan nikotin, senyawa kimia seperti deactyl, ethyl alcohol yang berguna sebagai perasa kimiawi, senyawa organik, dan logam berat (U.S. Surgeon General’s, 2016; Tierney, et. al, 2016). Senyawa tersebut masuk melalui saluran pernapasan dari uap cairan vape.

Kebanyakan efek samping dari vaping tidak dapat dirasakan secara langsung. Namun, seiring penambahan jumlah senyawa dari cairan vape yang terpajan ke tubuh, semakin tinggi pula efek samping yang mungkin dirasakan. Senyawa kimia dari aerosol vape dapat dengan mudah masuk ke tubuh melalui saluran pernapasan, mulut, maupun penyerapan kulit, yang dapat menyebabkan kemungkinan senyawa yang masuk juga semakin tinggi. Beberapa efek samping yang disebabkan oleh vaping, yaitu iritasi saluran pernapasan hingga kanker (Tierney, et. al, 2016; CDC, 2019). Hal tersebut menunjukkan bahwa bahaya vaping sama besarnya dengan rokok tradisional.

Lalu mengapa vape semakin terkenal dan dianggap lebih tidak berbahaya dibandingkan rokok tradisional?

Selain karena kandungannya rokok tradisional dianggap berbahaya karena bersifat adiktif. Namun, bagaimana dengan vape? Apakah vape tidak bersifat adiktif? Apa yang sebenarnya menyebabkan rokok tradisional begitu adiktif?

Sifat adiktif tersebut ditimbulkan oleh keberadaan nikotin pada bahan baku rokok. Nikotin ini meningkatkan kadar dopamin pada otak, dan merusak keseimbangan senyawa kimia pada otak. Nikotin pada rokok tradisional akan sampai sedikit demi sedikit dan dalam waktu yang lama sehingga dibutuhkan lebih banyak asupan rokok untuk meningkatkan kadar dopamin pada otak. Sementara itu, pada vape nikotin akan tersalurkan lebih cepat melalui kemampuan tubuh dalam menyerap aerosol, sehingga kadar dopamin akan terpenuhi dengan cepat (Knight-West & Bullen, 2016). Ketika seseorang berhenti mengonsumsi nikotin, ketidakseimbangan senyawa kimia pada otak akan menyebabkan gangguan fisik dan psikologis, seperti mood swing dan keinginan untuk mengonsumsi nikotin kembali (Kandola, 2019).

Studi menunjukkan bahwa vape ternyata mampu menurunkan ketergantungan terhadap rokok tradisional. Selain karena kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan dopamin yang lebih cepat, vape juga mampu menggantikan gerak dan kebiasaan dalam merokok yang ternyata juga berkontribusi dalam meningkatkan dopamin. Vaping tidak menggambarkan proses ketika merokok secara konvensional, yang tergambar dalam kebiasaan saat merokok, seperti membakar rokok, menghisap, dan menghembuskan asap. Hilangnaya hal tersebut dalam vaping yang diduga merupakan kunci menurunkan kebiasaan dalam merokok (Knight-West & Bullen, 2016). Dopamin akan turun ketika kebiasaan merokok tersebut hilang, karena tidak adanya relapse setelah withdraw dopamin.

Walaupun demikian, adiksi terhadap vaping tetap dapat terjadi. Hal ini disebabkan oleh kandungan nikotin pada cairan vape. Selain itu, studi lain menunjukkan vaping mampu menginisiasi dan meningkatkan risiko ketergantungan terhadap rokok konvensional dan vape itu sendiri pada 6 bulan berikutnya (Leventhal, et. al., 2016). Adiksi pada vape disebabkan oleh nikotin dalam jumlah yang dapat ditambah dengan sangat besar hanya dengan meningkatkan voltase dari alat dan extra-catridge untuk menambah konsentrasi nikotin, selain itu perasa yang ditambahkan pada cairan vape dapat ikut serta memengaruhi keinginan seseorang untuk mencoba dan terus melakukan vaping. Adiksi terhadap vaping juga dipengaruhi oleh anggapan bahwa vaping tidak berbahaya dan tidak sama dengan merokok secara konvensional karena tidak adanya bau asap rokok yang dihasilkan, melainkan adanya rasa yang dihasilkan oleh perasa tambahan pada pemanasan cairan vape (Blaha, 2019).

Beberapa fakta tersebut menunjukkan bahwa vaping sama berbahaya dan sama adiktifnya dengan penggunaan rokok konvensional. Selain itu, bahaya nikotin dan senyawa kimia lain yang dapat merusak dan memengaruhi tubuh baik secara fisik maupun secara psikologis. Hal-hal tersebut tentu membuktikan bahwa vaping bukan merupakan pilihan alternatif yang bijak dalam mengganti rokok konvensional dan untuk berhenti dari ketergantungan nikotin.

Pelajari merokok dan kesehatan mental lebih lanjut di Seribu Tujuan

References
Sumber